Showing posts with label Makalah. Show all posts
Showing posts with label Makalah. Show all posts

Negara Dipaksa Terbuka dan Inklusif

Liberalisasi ekonomi dan privatisasi yang digambarkan di atas merupakan bukti dari kemerosotan dominasi negara dalam pengelolaan isu‐isu publik. Institusi negara memang tidak selalu menjadi lemah, namun yang minimal terjadi adalah arena kerja negara yang semakin menyempit. Desakan yang paling utama tertuju pada institusi negara di tingkat nasional yang ditarik dalam dua arus sekaligus, yaitu arus globalisasi dan arus lokalisasi.


Gagasan yang mengandaikan pemerintah nasional adalah aktor utama dalam kebijakan publik dan mengendalikan wilayah ekonomi dan sosial, nampaknya semakin tidak terbukti. Penggerusan terhadap peran pemerintah nasional ini terjadi melalui dua arah. Pada arah yang satu, aktor‐aktor dalam sistem internasional semakin kuat peran dan daya tekannya, terutama melalui kekuatan pasar modal internasional (Strange 1996). Sementara pada arah yang lain, peran‐peran lokal sebagai entitas sosial dan politik juga semakin menguat (Scharpf, 1985; Jordan 1990). Dengan demikian, asumsi tradisional mengenai adanya kedaulatan negara yang unitaris dan eksklusif kini hampir tidak mungkin lagi diterapkan. Di era sekarang ini, pemerintah nasional harus berbagi kedaulatannya dengan lembaga supra‐negara dalam sistem internasional, dan sekaligus juga dengan entitas sosial politik di daerah‐daerah. Perkembangan lainnya yang mengakibatkan usangnya gagasan pemerintah‐dominan adalah semakin kuatnya pelaku bisnis, baik pelaku bisnis domestik maupun asing. Perkembangan industrialisasi yang membidani lahirnya masyarakat ekonomi industrial yang kokoh, mengakibatkan peran‐peran dan kekuatan‐kekuatannya menjadi tidak bisa diabaikan lagi oleh pemerintah. Hubungan pemerintah dan sektor privat kini tidak lagi bersifat subordinatif, melainkan pemerintah harus terus menegosiasikan kepentingan‐kepentingannya dengan sektor privat ini. Bergesernya pola hubungan yang tadinya vertikal menjadi lebih horisontal ini menandai menguatnya pengaruh aktor‐aktor sosial dalam wilayah‐wilayah kebijakan publik. Gagasan tradisional yang sebelumnya menganggap negara adalah satu‐satunya organisasi yang mampu mengontrol dan mengatur masyarakat kini menjadi semakin tidak menemukan realititas empiriknya (Rhodes, 1996). Pratikno (2007), ’Governance dan Krisis Teori Organisasi’ Jurnal Administrasi Kebijakan Publik, November 2007, Vol. 12, No. 2, Yogyakarta: MAP UGM.

Dengan bermunculannya aktor‐aktor yang penting selain negara dalam kehidupan sosial, maka peran negara tidak lagi sedominan sebelumnya. Perkembangan‐perkembangan ini juga berimplikasi pada semakin terbukanya negara sebagai sebuah arena kontestasi. Dengan semakin terbukanya arena negara ini, secara otomatis negara menjadi semakin bisa diakses oleh siapapun dengan berbagai macam kepentingannya. Digelindingkannya ide good governance yang menuntut ruang partisipasi publik, transparansi, rule of law dan akuntabel semakin memaksa negara untuk bersifat terbuka dan inklusif (Pratikno 2005).

Lebih dari itu, institusi negara juga menghadapi pesaing‐pesaing baru. Ada banyak aktor baru yang siap menjalankan fungsi‐fungsi negara dengan lebih efektif, terutama dalam pemenuhan pelayanan publik. Sementara dalam isu‐isu yang lainnya, terutama dalam bidang pembangunan ekonomi dan penanganan isu‐isu sosial, negara tidak bisa lagi bertindak sendirian. Negara harus menegosiasikan kepentingannya dengan aktor‐aktor berpengaruh lainnya, terutama pelaku bisnis dan kalangan civil society. Dalam konteks ini, ungkapan Daniell Bell yang sangat terkenal bahwa “negara itu terlalu kecil untuk mengurus
hal‐hal yang besar, dan terlalu besar untuk mengurus hal‐hal yang kecil” menjadi semakin relevan (Fukuyama, 2004)

Gagasan pembatasan peran dan intervensi pemerintahan tersebut, secara otomatis menjadikan dorongan untuk memperkuat aktor‐aktor selain negara. Dalam konteks Indonesia, penguatan aktor‐aktor non negara ini juga mendapatkan momentumnya pasca jatuhnya rejim otoriter Orde Baru. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan 1997 bukan hanya memporak‐porandakan struktur ekonomi pembangunan, tetapi juga mengakhiri praktik otoriterisme Orde Baru dan menjadi jalan bagi transisi demokrasi di Indonesia (Budiman et. al, 2000; Hadiz, 2005). Proses transisi menuju demokrasi ini berlangsung bersamaan dengan gerakan sosial yang sedang bangkit, dan ide good governance yang sedang mendominasi wacana reformasi pemerintahan. Pratikno (2007), ’Governance dan Krisis Teori Organisasi’ Jurnal Administrasi Kebijakan Publik, November 2007, Vol. 12, No. 2, Yogyakarta: MAP UGM.

Konsekuensi‐konsekuensi yang dimunculkan dari perkembangan ini sangat luas. Salah satu konsekuensi yang terpenting adalah pergeseran makna pemerintahan dan hubungan kekuasaannya dalam kehidupan sosial. Ide bahwa negara adalah lembaga yang berdiri di atas (stands over) dan menentukan domaindomain ekonomi dan sosial kini semakin usang. Sementara hubungan‐hubungan hierarkis yang ditegakkan melalui mekanisme regulasi juga semakin sulit diterapkan lagi. Meluasnya aktor‐aktor yang penting dalam kehidupan sosial, mengakibatkan terjadinya polarisasi kekuasaan yang sangat kompleks. Dalam konteks itu, fungsi pemerintah hanyalah mengakomodasi dan menegosiasikan kepentingannya di antara aktor‐aktor yang lain dengan bertindak sebagai fasilitator dan mediator.

Di ranah kebijakan publik, perkembangan‐perkembangan itu berakibat pada semakin meluasnya medan kebijakan yang memungkinkan aktor‐aktor non negara untuk terlibat. Dalam perkembangan yang lebih baru, kebijakan itu didefinisikan sebagai hasil dari interaksi berbagai aktor yang memiliki kepentingan dan strategi yang kompleks (Klijn dan Koppenjan, 2000). Dalam konteks ketika negara bukanlah satu‐satunya agen perumus dan implementasi (planning and implementing agency) suatu kebijakan publik, fungsi steering terhadap hubungan‐hubungan para aktor yang kompleks dalam memformulasikan, pengambilan kebijakan maupun dalam implementasi kebijakan tersebut menjadi sangat sentral. Istilah governance without government yang pertama kali dipopulerkan oleh Rosenau dan Czempriel (1992) mungkin menjadi metafor yang hampir tepat untuk menggambarkan meluasnya kekuasaan dan terbatasnya peran dan kapasitas pemerintahan saat ini.

Baca Selengkapnya......

Liberalisasi dan Keterbatasan Negara

Sejarah pemerintahan modern sampai dengan dekade 1970an diwarnai dengan persaingan yang sangat ketat antara sosialisme dengan liberalisme. Sosialisme menempatkan institusi negara sebagai aktor dominan dalam pengelolaan kepentingan masyarakat dengan menekankan pada mekanisme otoritatif. Sementara itu liberalisme tidak mengharapkan negara yang dominan, walaupun tetap membutuhkan negara kuat, dan oleh karenanya mendorong peran pasar yang dominan. Peta pertarungan ini bukan saja mewarnai peta politik global di era perang dingin yang mempertentangkan Barat dan Timur, tetapi juga pertarungan ideologi kebijakan di internal masing‐masing negara.



Dekade 1980an dan 1990an menjadi saksi kemorosotan peran negara yang akut yang terjadi di hampir seluruh belahan bumi (Pierre dan Peters, 2000: 4). Di negara‐negara Eropa, terutama di Inggris, kemenangan kelompok kanan baru (new rights) yang sangat liberal membawa implikasi pada serangkaian besar perubahan struktur ekonomi politik domestik. Perubahan‐perubahan besar yang dilakukan merupakan respon terhadap beratnya beban fiskal yang ditanggung oleh pemerintah untuk membiayai kepentingan publik. Padahal, pada sisi yang lain upaya untuk meningkatkan pendapatan publik, terutama melalui pajak, hampir tidak mungkin lagi dilakukan. Sementara itu bisnis‐bisnis yang dikelola pemerintah semakin merosot efisiensi dan daya saingnya. Untuk pertama kalinya, di bawah Perdana Menteri “sang tangan besi” Margareth Thatcher, di Inggris dijalankan gelombang privatisasi dan pemotongan anggaran publik secara besarbesaran. Orientasinya adalah untuk menarik kembali dan mengurangi intervensi pemerintah di ranah publik dan untuk memajukan pasar bebas (Wibowo dan Wahono, 2003).

Apa yang dilakukan Thatcher di Inggris juga kemudian dikembangkan di Amerika Serikat di bawah pemerintahan Ronald Reagan. Periode panjang keterlibatan negara dalam urusan‐urusan domestik yang dimulai sejak zaman New Deal‐nya Roosevelt telah berakhir, dan segera digantikan dengan babak pemerintahan baru ”New Federalism”. Pada periode pemerintahan Reagan ini liberalisasi gencar sekali dilancarkan, terutama melalui deregulasi ekonomi, meskipun sebenarnya upaya ke arah ini sudah dirintis sejak tahun 1970an.

Deregulasi ekonomi ini menjadi alat utama dalam liberalisasi di Amerika Serikat, sementara privatisasi menjadi cara dominan dalam proyek liberalisasi di Inggris. Hal ini karena kepemilikan publik di Amerika tidak seluas di Inggris (Hertz, 2003). Pratikno (2007), ’Governance dan Krisis Teori Organisasi’ Jurnal Administrasi Kebijakan Publik, November 2007, Vol. 12, No. 2, Yogyakarta: MAP UGM.

Namun demikian, ada benang merah yang menghubungkan antar keduanya. Baik Thatcher maupun Reagan percaya bahwa negara berperan sebatas regulator saja dan negara harus menjamin bahwa pasar terbuka bisa berjalan.

Keduanya juga percaya terhadap prinsip trickle down effect (efek merembes ke bawah), bahwa kemakmuran individu melalui pasar bebas bisa mendorong kemakmuran bangsanya. Dalam waktu yang relatif singkat, setelah keberhasilan dua negara itu “menyelamatkan” negara dari petaka kebangkrutan ekonomi, ideide kanan baru itu menjadi demikian meluas (Priyono, 2003).

Di negara‐negara Skandinavia yang sejak pasca Perang Dunia II mengadopsi sistem negara kesejahteraan (welfare‐state) dan full employment juga mengalami ketidakstabilan. Dalam sistem negara kesejahteraan ini, fungsi utama negara adalah untuk meredistribusi kekayaan dan sumberdaya, terutama melalui diversifikasi sistem pajak dan pemberian berbagai macam tunjangan publik.

Kapasitas pemerintah untuk menyediakan belanja publik yang terus membesar tidak diimbangi dengan kemampuan untuk memungut pajak yang lebih besar. Karena struktur demografi yang dipenuhi oleh golongan tua yang menyerap banyak anggaran untuk belanja tunjangan, krisis fiskal melanda negara‐negara ini. Sementara itu kapasitas pemerintah untuk menjamin full employment juga semakin kesulitan karena kondisi pertumbuhan ekonomi yang stagnan dan melemahnya investasi. Kegelisahan publik atas instabilitas sistem ini bisa dilihat dari bertaburnya publikasi‐publikasi dengan tema “akhir” atau “masa depan” sistem negara kesejahteraan yang demikian semarak sejak awal tahun 1980an (Kickert, Klijn dan Koppenjan, 1999).

Monumen paling dramatis bagi keruntuhan dominasi negara dalam struktur ekonomi dan masalah‐masalah publik di dekade 1980an adalah ambruknya sistem komunisme Uni Soviet yang tidak diduga‐duga. Sejak Perang Dunia II, Uni Soviet berkembang menjadi negara yang paling maju setelah Amerika Serikat. Perkembangan politik internasional pada masa itu ditandai dengan pertentangan dua kutub kekuasaan yang banyak sekali menyedot perhatian para praktisi dan peneliti hubungan internasional. Kehancuran rejim komunis di Uni Soviet ini berimplikasi pada berakhirnya sistem sentralitas negara sebagai salah satu model pembangunan di dunia (Fukuyama, 1992; 2004).

Di kawasan yang lain, kekuatan negara yang sempat membawa pertumbuhan ekonomi yang tinggi di negara‐negara Asia pada tahun 1980an dan awal 1990an ternyata tidak bertahan lama. Gelombang krisis yang menyapu negara‐negara Asia pada pertengahan 1997 memporak‐porandakan struktur ekonomi politiknya. Negara model ini bukan hanya ambruk diterpa badai krisis finansial, tetapi juga mengalami krisis legitimasi yang berkepanjangan dan multidimensional seperti yang dengan jelas sekali ditunjukkan dalam kasus Indonesia. Di Indonesia, gejala penolakan terhadap negara bukan hanya muncul di ranah ekonomi yang selama ini tidak berkembang karena adanya monopoli dan kapitalisme kroni yang dibangun selama Orde Baru. Namun juga, gerakan penolakan terhadap negara ini juga seiring dengan kebangkitan gerakan sosial (civil society) yang selama Orde Baru dikebiri. Dalam konteks yang demikian, peran dan intervensi pemerintah bukan hanya telah mengalami keterbatasan, tetapi dalam beberapa kasus dinilai menjadi sumber persoalan (Hadiz, 2005). Dalam kasus Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya, krisis ekonomi yang terjadi dimaknai sebagai ketidakberdayaan dan kegagalan negara. Sementara itu krisis politik yang berkelanjutan merupakan bentuk perlawanan terhadap dominasi negara yang terjadi pada masa sebelumnya. Fenomena memuluskan proses liberalisasi ekonomi dan politik yang terjadi di Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya. Pratikno (2007), ’Governance dan Krisis Teori Organisasi’ Jurnal Administrasi Kebijakan Publik, November 2007, Vol. 12, No. 2, Yogyakarta: MAP UGM.

Baca Selengkapnya......

Problem Krisis Dan Konsep Manajemen Qalbu


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
“Mana kala kemunduran akhl;ak telah menimpa suatu kaum, laksanakanlah upacara kesedihan dan duka cita” (Syauqi al-Marhum)

Sejak bangsa Indonesia dilanda krisis ekonomi yang ditandai dengan melemahnya nilai tukar mata uang rupiah terhadap mata uang asing pada pertengahan tahun 1998 silam, keadaan bangsa Indonesia yang baru saja memasuki era tinggal landas menjadi sangat memperihatinkan. Krisis ekonomi yang melanda demikian cepat itu berdampak pada instabilitas politik dan seluruh aspek kehidupan bangsa ini. Arus reformasi yang menntut suksesi kepemimpinan nasionalpun terus bergulir semakin kuat. Ternyata akibat da ri semua kejadian itu berdampak pada rakyat Indonesia sendiri. Rakyatlah yang seolah menjadi tumbal dari semua kejadian di negeri ini, sementara para pejabat, tetap saja hidup dalam kemegahan dan kemewahannya. Para pekerja, karyawan dan para buruh di pabrik-pabrik banyak menerima PHK secara sepihak lantaran beberapa perusahaan dan instansi tempat mereka bekerja gulung tikar, sehingga tingkat pengangguran melonjak begitu drastis, dan tindak kriminalitas semakin merajalela. Keadaan negara kian hari kian bertambah terpuruk, sehingga banyak sekali komponen masyarakat yang kehilangan pegangan hidup. Keadaan semacam ini tampaknya memang tidak mudah untuk diatasi, bahkan membekas hingga saat ini. Barangkali inilah konsekuensi sistem kapitalisme yang dimanifestasikan modernisme.
Memang, jika kita memperhatikan fenomena kehidupan manusia di era moderen saat ini, kita akan banyak sekali menemukan gejala yang sangat unik mengenai pola hidup yang mereka lakukan. Di dunia barat, belahan dunia yang menjadi simbol modernisme dimana masyarakatnya telah melampaui dan menjangkau kecanggihan teknologi (the post industrial society), suatu komunitas yang telah mencapai tingkat kemakmuran materi sedemikian rupa dengan segala perangkat teknologi yang demikian canggih dan serba otomatis itu, pada faktanya justru sedang dihadapkan pada suatu problematika kehidupan yang sangat serius, yakni hilangnya eksistensi diri sebagai manusia yang sebenarnya

Ternyata kemajuan teknologi yang sangat pesat itu disamping memiliki segi-segi positif bagi kehidupan manusia seperti efisiensi dan berbagai kemudahan-kemudahan materiil, ia juga memiliki efek dan akses-akses negatif yang dampaknya begitu berpengaruh dan sangat dirasakan umat manusia di era modern. Jawaban-jawaban yang diberikan era modern dengan peralatan teknologinya yang serba canggih justru menyebabkan manusia banyak yang lari dari paham keagamaan yang selama ini mereka pegang. Manusia era modern dalam hal ini telah memasuki babak baru kehidupan mereka yakni The post industrial society, sehingga paham sekulerisme berkembang pesat.

Bahwa masyarakat modern memang sedang dihadapkan pada persoalan determinasi dan hilangnya eksistensi diri, hal tersebut telah dijelaskan dan diakui sejak lama oleh para filosof dan pemikir sosial baik dari kalangan Muslim maupun non Muslim. Dari dunia Barat tercatat nama seperti G.W.F Hegel (1770-1831), Erich Fromm dengan filsafat cintanya, Karl Marx (1818-1883) dengan teori alienasinya, bahkan juga Nietzche (1844-1900) dengan filsafat eksistensialismenya. Secara umum pendapat dan pemikiran mereka tentang manusia itu tertuang dalam paham humanisme; yaitu suatu paham yang hendak memanusiakan manusia, setelah mereka oleh modernisme sering kali tidak dimanusiakan.

Sementara itu dari kalangan Islam, mereka mencoba mengangkat tema-tema keislaman sebagai solusi dalam mengatasi problem krisis modernisme. Diantara sebagian pemikir itu tercatat nama seperti S.H. Nasr, Yususf Qardhawi, Fazlur Rahman, dan juga Ali Syari’ati yang secara vulgar mengadopsi istilah humanisme dengan hanya memberi sedikit label keislaman, serta masih banyak lagi para pemikir Islam abad kedua puluh lainnya.

Disebabkan demikian kuatnya hegemoni dan pengaruh kebudayaan Barat terhadap kebudayaan lainnya di penjuru dunia dengan paham modernismenya tadi, maka dampak modernismepun kemudian tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Barat saja. Sepanjang daratan Atlantik hingga teluk Arab, terutama pada puluhan tahun terakhir banyak sekali dijumpai kenyataan-kenyataan berkaitan dengan kebobrokan moral, meskipun kita (bangsa Timur) telah diakui sebagai masyarakat yang bermoral .
Menurut Qardhawi, essensi yang mendasar dari krisis besar yang dihadapi umat manusia adalah krisis spiritual moralitas dan krisis akhlak. Krisis semacam ini dalam sisi jauhnya akan mengarah pada sektor ekonomi, politik, manajemen, sains dan teknologi. Krisis memang terjadi pada berbagai sisi tadi; akan tetapi intinya berpangkal pada matinya spirit keimanan dan akhlak.
Ekspresi yang paling nyata berkaitan dengan kasus modernisme adalah munculnya budaya tandingan (counter culture) yang terkenal dengan sebutan post-modernisme . Kemunculan gerakan ini memang banyak dilatarbelakangi oleh ketidakpuasan terhadap modernisme dalam menciptakan dan mengarahkan kehidupan manusia. Modernisme dianggap telah membuat kerusakan. Ia tidak hanya melibatkan penyebaran hegemoni peradaban Barat, urbanisasi, industrialisasi, teknologi dan konsumerisme, tetapi juga melahirkan rasisme, perbedaan kaya-miskin, diskriminasi, pengangguran dan stagnasi .
Kelahiran posmodernisme menurut Pauline Rosenau sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut: pertama, tidak sabar untuk mendapatkan hasil-hsil dramatis yang dijanjikan oleh ilmu pengetahuan modern. Kedua, perhatian modernisme mulai terarah pada penyalahgunaan ilmu pengetahuan modern. Ketiga, kontradiksi tampak pada antara cara ilmu pengetahuan harus berfungsi dalam teori dengan bagaimana ilmu pengetahuan itu sesungguhnya bekerja. Keempat, keyakinan yang salah bahwa ilmu pengetahuan dsapat menyelesaikan semua masalah abad kedua puluh. Kelima, ilmu pengetahuan modern tidak memperhatikan dimensi mistik dan metafisik dari eksistensi kemanusiaan, dan keenam, ilmu pengetahuan modern tidak pernah memperhatikan aspek normatif dan etika dimana seharusnya aspek-aspek tersebut terkandung dalam ilmu pengetahuan .
Post modernisme tidak sepaham (dengan modernisme) terutama tentang adanya upaya mereduksi realitas dengan pandangan yang melihat bahwa realitas eksis secara independen dengan metode ilmiah sebagai satu-satunya metode; lalu penolakan modernisme terhadap nilai dan perasaan subyektif; kemudian denngan pengetahuansebagai entitas bebas nilai; dan dengan sentralisassi kualitas dan prediksi sebagai ciri utama ilmu pengetahuan. Inilah beberapa hal yang membedakan modernisme dengan posmodernisme.

Jika posmodernisme konsisten dengan ciri metodologinya yang menerima segala sesuatu yang marjinal, maka tidak ada alasan bagi posmodernisme untuk menerima metodologi Islam, karena posmo mengakui eksistensi agama-agama dan hal-hal yang dimarjinalkan oleh posmodernisme. Rosenau sendiri menyatakan bahwa ilmu pengetahuan sosial posmo memberikan ruang bagi manusia aktif dan secara sosial sensitif untuk mencari politik posmo baru, agama dan kehidupan secara umum.
Senada dengan Rosenau, Shweder (1986) memberikan argumentasi bahwa agama, kulltus dan ilmu sihir sekalipun, mempunyai status yang sama dengan rasionalitas ilmu pengetahuan. Rosenau menambahkan bahwa posmo memahami kehidupan kita sehari-hari sebagai suatu yang bersifat intensif berdasarkan pada perasaan, dan hampir sepenuhnya bersifat spiritual.

Pemahaman posmodernisme atas agama, kekuatan supernatural dan spiritual akan dapat membantu dalam memahami metodologi ilmu pengetahuan Islam, karena paradigma Islam menggunakan agama sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan, disamping dunia nyata sebagai pasangannya .
Atas dasar inilah kita selanjutnya bisa memahami jalan pikiran para pemikir Islam modern seperti Hossein Nasr, Rahman, Syari’ati dan yang lainnya ketika mereka mencoba menawarkan prinsip-prinsip Islam ke dalam wacana pemikiran dunia Barat untuk dijadikan alternatif bagi pengentasan krisis kemanusiaan modern, di saat mereka (kaum Barat) secara pragmatis melirik wacana ketimuran sebagai alternatif pemecahan problem mereka.

Nasr misalnya, dengan mendasarkan pada sebuah hadits Nabi yang sangat masyhur di kalangan para sufi: man ‘arafa nafsahu fa qad ‘arafa rabbahu, ia pertama-tama membandingkan konsepsi manusia antara yang dimiliki tradisi Barat dengan konsepsi manusia menurut Islam sebagai bahan mempertimbangkan ciri tertentu modernisme dan berbagai manifestasinya. Menurut Nasr, kita harus mencari tahu bagaimana manusia modern menghayati dirinya, hubungan dirinya dengan Tuhan, serta apa yang menyusun jiwa dan pikirannya dalam memola dunia modern .
Dari sini Nasr selanjutnya mensinyalir teori evolusi Darwin sebagai penyebab utama munculnya ide dan gagasan-gagasan sekuler yang disebut dalam bahasa Komaruddin hidayat, amat bernuansa kehilangan visi ke-Ilahiah-an yang begitu merusak agama. Paham metafisika barat menolak sama sekali hal-hal yang bersifat sakral dan menganggap tidak ada realitas lain selain yang profan, akibat teori Darwin tersebut. Nasr dan juga para pemikir muslim lainnya dalam hal ini bertindak sebagai juru bicara bagi umat Islam sendiri maupun bagi dunia Barat. Kepada dunia Barat mereka menyarankan pemikiran Islam yang mereka tawarkan sebagai alternatif nilai dan way of life, sementara bagi kalangan Islam sendiri mereka memberitahukan bahwa Barat tengah mengalami kebangkrutan spiritual.

Hal serupa inilah yang saat ini sedang diusahakan dan dikembangkan oleh K.H. Abdullah Gymnastiar (lebih populer disapa Aa Gym), seorang da’i muda yang saat ini sedang menjadi fenomena bukan hanya di negeri ini, melainkan juga di manca negara melalui suatu trade mark yang sesungguhnya bukanlah merupakan hal yang baru dalam dunia tasawuf, yakni konsep Manajemen Qolbu (MQ). Hal yang demikian nampak pada isi ceramah-ceramahnya yang cenderung bernuansa sufistik dan spiritualistik . Aa Gym sendiri dalam beberapa kesempatan seringkali menyatakan akan terus memasuki media-media Barat untuk menampilkan citra Islam yang sejuk.

Tokoh kita yang satu ini memang muncul di saat yang sangat tepat, terutama bagi bangsa Ini.. Saat dimana krisis ekonomi yang berkepanjangan dan eksperimen demokrasi yang limbung pasca tiga dekade kediktatoran, di saat kondisi umat sedang benar-benar membutuhkan pegangan dan ketenangan spiritual. Pendekatan dakwah yang dilakukannya membangkitkan harapan dan percaya diri. Aa Gym muncul seolah sebagai oasis di tengah kultur masyarakat bangsa yang korup dan serakah seperti sekarang.

Aa Gym pertama-tama memandang bahwa sebenarnya hidup ini adalah untuk berprestasi bagi dunia dan bagi akhirat nanti. Sedang prestasi tidak akan mungkin bisa diraih tanpa adanya sikap disiplin. Dan masalah disiplin adalah masalah karakter. Oleh sebab itu karakterlah yang dianggap sebagai inti segala sesuatu, termasuk yang menyebabkan ketertinggalan umat Islam dalam menjalankan fungsinya sebagai khalîfatullâh fî al-ardh. Untuk itu dibutuhkan nuansa dakwah dan sistem pendidikan inovatif yang dapat menggugah dan mengubah karakter berbagai lapisan masyarakat menjadi lebih positif.

Inti dari suatu karakter adalah hati (Arab: qalb). Maka mengubah suatu karakter haruslah dimulai dengan upaya mengelola (to manage), meluruskan dan membersihkan (tashfiyyat) hati itu . Membangun karakter diri sendiri, keluarga dan tatanan masyarakat pada lingkup apapun, seluruhnya amat bergantung pada aktivitas hati yang dibuat bersih. Barangkali itulah sebabnya bagi Aa Gym setiap keadaan tidaklah perlu disikapi dengan kekuatan, apalagi kekerasan; namun lebih didasarkan pada sentuhan qalbu. Yakni dengan kekuatan manajemen, konsep dan sumber daya manusia . Sejauh ini, sebagaimana ditulis harian The New York Time edisi Agustus 2002, Aa Gym memang dianggap berhasil menampakkan wajah Islam yang sejuk itu. Skripsi dengan judul: “PERSPEKTIF TASAWUF TENTANG KRISIS BANGSA: Telaah Terhadap Konsep Manajemen Qolbu (MQ) (Studi Kasus Pada Jamaah Daarut Tauhiid)” ini akan mencoba menganalisa sejauh mana dedikasi dan konstribusi konsep MQ dalam memberikan solusi bagi problem krisis berkepanjangan yang sedang dihadapi bangsa kita hingga saat ini.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Sebagai bentuk kata benda (nouns) kata krisis memang dapat dinisbatkan untuk merujuk berbagai keadaan di berbagai bidang. Ia dapat digunakan pada bidang ekonomi, kedokoteran, kebudayaan atau bidang sastra. Oleh karena itu dalam penelitian in penulis akan membatasi pemakaian istilah krisis tersebut untuk merujuk bidang moral. Yakni sumber utama dari segala krisis di semua bidang tersebut menurut perspektif agama (tasawuf), dengan memfokuskan telaahannya pada konsep Manajemen Qolbu (MQ) yang digagas Aa Gym.

Agar pembahasan skripsi ini menjadi lebih terarah dan komprehensif, penulis akan merumuskan permasalahan yang akan dibahas sebagai berikut: a. latar belakang ide MQ, b). hubungannya dengan konsep tasawuf pada umumnya tentang qalbu, c. perbedaan dan persamaan konsep MQ dengan konsep tasawuf pada umumnya, dan d. sejauh manakah efektivitas konsep MQ dalam membentuk karakter para jamaahnya.

a.Hipotesis
Dari perumusan masalah di atas dapat dikemukakan hipotesis sebagai berikut:
H 1: Semakin mendalam pengetahuan seseorang tentang konsep MQ, akan berakibat positif pada karakter dan perilakunya, demikian pula sebaliknya. Jadi terdapat korelasi positif antara konsep MQ dengan perilaku sehari-hari.
H 2: Kharisma dan keteladanan kiai mempengaruhi paradigma seseorang dalam memahami konsep MQ.

C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan ini adalah:
1.mengetahui latar belakang konsep MQ sebagai solusi yang ditawarkan Aa Gym berkaitan dengan kondisi krisis berkepanjangan yang menimpa bangsa Indonesia; bagaimana konsep ini bisa lahir, bagaimana hubungan konsep ini dengan konsep para sufi pada umumnya tentang qalbu, dan sejauh manakah efektivitas konsep MQ dalam memberikan solusi bagi penyelesaian krisis bangsa.

2.Sebagai sumbangan pemikiran dalam bentuk skripsi untuk memperluas dan menambah khazanah kepustakaan Islam, juga untuk menambah wawasan baru bagi masyarakat pada umumnya mengenai pentingnya menjaga hati.

3.Untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan tugas akademis guna mencapai gelar sarjana filsafat Islam.

D. Metodologi Penelitian

1.Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan memakan waktu sekitar enam bulan yang terbagi dalam tiga tahapan. Tahap I, bulan Februari hingga Maret 2003 adalah tahap pengumpulan data dan bahan-bahan yang menunjang. Tahap II, bulan April hingga Mei 2003 adalah tahap observasi di lapangan dengan menggunakan angket, wawancara dan studi dokumentasi. Dan tahap III, bulan Mei sampai Juni merupakan tahap pengolahan data dan bahan-bahan yang telah diperoleh di lapangan. Sedangkan tempat penelitian dilaksanakan di pesantren Daarut Tauhiid Bandung yang merupakan tempat eksperimen langsung konsep Manajemen Qolbu (MQ).

2.Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah seluruh jamaah Daarut Tauhiid (DT) yang telah diberikan pelatihan Manajemen Qolbu (MQ) di PP. Daarut Tauhiid Bandung, meliputi para peserta program pelatihan MQ dari PT PLN (Persero) Distribusi Jabar dan Banten, peserta pelatihan MQ dari Bank Jabar serta para santri karya dan santri mukim di DT. Mereka adalah orang-orang yang berinteraksi secara langsung dengan konsep MQ; sedangkan sampel penelitian sebanyak 75 orang yang penarikannya dilakukan secara random (acak) proporsional.

3.Identifikasi Variabel
Variabel independen (X) dalam penelitian ini adalah konsep MQ yang digagas Aa Gym, dan variabel dependen (Y) adalah sifat-sifat mulia (mahmudah) seperti sikap rendah hati, tawadhu, sederhana, disiplin, sabar, jujur, gigih, kepedulian sosial dan lain sebagainya.

4.Metode Pengumpulan Data
a.Penelitian Kepustakaan (library research). Untuk mendukung metode tersebut penulis akan melakukan penelitian kepustakaan. Yakni penelitian terhadap tulisan-tulisan dalam tabloid, jurnal, majalah, surat kabar maupun buku-buku yang terkait dengan pembahasan MQ baik yang ditulis Aa Gym sendiri maupun buku pendukung karya orang lain. Hal ini dilakukan sebagai upaya mendapatkan data-data yang mengandung jawaban atas pokok permasalahan yang telah dirumuskan. Metode semacam ini sering juga disebut “studi dokumentasi”.

b.Penelitian Lapangan (Field Research). Penelitian lapangan dilakukan dengan mengumpulkan data melalui angket dan wawancara (participant observer). Metode ini dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai pengelolaan pesantren dan para jamaahnya serta upaya-upaya yang dilakukan guna mengatasi masalah krisis. Angket memuat sebanyak 21 item pertanyaan meliputi latar belakang demografis responden dan efektifitas konsep MQ. Angket diberikan kepada 80 oang responden. Angket yang digunakan adalah angket tertutup dan terbuka yang mencerminkan semua aspek yang akan diteliti.

Wawancara dilakukan dalam bentuk tidak terstruktur/ lepas dan dapat berubah sesuai dengan kebutuhan. Pertanyaan akan disampaikan kepada informan yang competeble dengan jumlah yang tidak terbatas.

5.Teknik Analisa Data
Analisa yang dilakukan dalam penelitian ini dilakukan dengan metode statistik deskriptif melalui analisa tabel distribusi frekuensi, modus dan rerata, kemudian mencari kemungkinan hubungann antara variabel independen (konsep MQ) dengan variabel dependen (sifat-sifat mahmudah)

E. Sistematika Penulisan
Untuk lebih dapat mengidentifikasi masalah, pembahasan skripsi ini akan disistematisasikan ke dalam bab per bab dan sub bab.

Bab I merupakan pendahuluan; meliputi latar belakang masalah, tujuan penelitian, pembatasan dan perumusan masalah, metodologi penelitian dan sistematika penulisan.
Bab II menjelaskan masalah krisis, terutama yang terjadi di Indonesia, juga konsep MQ. Masalah krisis di Indonesia meliputi definisi krisis pada umumnya dan sebab-sebab terjadinya krisis menurut perspektif tasawuf. Sedangkan konsep MQ sendiri mencakup berbagai pengertian dan istilah tentang qalbu dan konsep MQ dalam beberapa perspektif, mencakup perspektif kaum sufi dan perspektif Aa Gym.
Bab III membahas tiga figur yang ada di pesantren DT meliputi pesantren DT dan jamaahnya, perjalanan hidup da’i ”Semua Umat” dan kedudukan konsep MQ di pesantren.
Bab IV membahas secara khusus konsep manajemen qalbu dalam perspektif Aa Gym, dengan melihat kiat dan strategi-strategi yang dilakukan dalam mengatasi masalah krisis tata nilai di negeri ini.
Dan bab V adalah bab penutup; bab ini mencakup kesimpulan dan saran-saran dari penulis unuk penelitian lebih lanjut.

BAB II
PROBLEM KRISIS DAN KONSEP MANAJEMEN QALBU

A.Krisis di Indonesia
1.Definisi Isilah Krisis
Dalam “The new horizon ladder dictionary of the English language” kata krisis (Inggris : crisis) secara umum didefinisikan sebagai : 1). A decisive or extremely important stage in a series or event. (Sesuatu yang menentukan atau taraf yang penting pada suatu seri atau peristiwa). 2). A time of difficulty or danger. ( Masa sulit atau berbahaya)1.

Menurut tim penulis “Ensiklopedi Indonesia”, kata krisis berasal dari bahasa Yunani yang penggunaannya dapat dipakai di berbagai bidang, antara lain :
a). Bidang kedokteran. Pada bidang ini krisis berarti titik balik perjalanan penyakit yang menunjukkan bahwa gejala akut pada penyakit berakhir dengan cepat hingga menyebabkan kematian atau kesembuhan.

b). Bidang ekonomi. Krisis dalam bidang ini berarti kemerosotan hebat dalam kegiatan ekonomi yang menimbulkan depresi. Keadaan seperti ini biasanya terjadi sekali dalam sepuluh hingga sebelas tahun sebagai akibat kepekaan konjungter ekonomi bebas.

c). Bidang kebudayaan. Dalam bidang ini krisis berarti suatu keadaan dimana suatu kebudayaan tertentu tidak mampu mencari jalan keluar dari kesulitan yang melibatnya2.
Dari definisi di atas kiranya dapat kita ambil kesimpulan bahwa istilah krisis yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah krisis yang termasuk dalam kategori bidang kebudayaan, yakni krisis moralitas. Di Indonesia masalah krisis sebenarnya bukan hanya mengemukan di era sekarang saja. Pada kurun waktu antara tahun 1953 hingga 1955 istilah krisis sudah sangat populer3. Saat itu istilah krisis melaiese sudah sangat populer. Seperti halnya pada masa sekarang, pada saat itu istilah krisis melekat pada berbagai aspek yang menggambarkan kondisi sosial bangsa; yakni seperti krisis akhlak, kepercayaan, hukum, dan juga krisis sastra.

2. Sebab-Sebab Terjadinya Krisis: Perspektif Tasawuf

“……..Indonesia tidak kekurangan orang pintar, fisiknya sehat. Tapi ternyata bangsa ini bangkrut karena orang yang hati nuraninya sakit……….MQ bercita-cita merubah bangsa yang memang sudah berpotensi Islam besar, (potensi—peny.) alamnya banyak, (dan potensi) budaya yang luar biasa. Merubah bangsa harus merubah masyarakat dahulu. Merubah masyarakat harus dari individu, dan individu terdiri dari sebuah kekuatan besar yang disebut dengan hati.”(Ust. Komarudin Chalil, salah seorang pemateri dalam pelatihan MQ)

Sebagian besar para penggawa kerajaan Mesir di bawah pimpinan raja Qithfir al-Aziz kala itu sama sekali tidak percaya pada ta’wil atas mimpi sang raja yang dikemukakan Nabi Yusuf a.s. perihal krisis yang akan menimpa kerajaan itu selama kurun waktu tujuh tahun dalam jangka tujuh tahun mendatang (Q.S. Yusuf : 54). Mereka sangat membanggakan keadaan negeri mereka kala itu yang sangat makmur, disamping mereka sangat membanggakan fundamental ekonomi dan politik yang telah mereka bangun4.

Keadaan semacam ini yang terjadi juga pada pemerintahan kita ketika menjelang krisis ekonomi yang menyebabkan krisis multidimensi melanda bangsa kita. Pemerintah orde baru saat itu begitu over confident terhadap dirinya. Tatkala Malaysia dan Thailand diserang dengan krisis moneter yang sebagian diakibatkan oleh ulah para pedagang dan spekulan mata uang, pemerintah Orba merasa percaya diri dengan berlebihan. Para petinggi negara kala itu berkata bahwa Indonesia tidak perlu khawatir terhadap nilai rupiah vis-à-vis dolar AS, karena fundamental ekonomi Indonesia jauh lebih kuat dan sehat dari pada fundamental ekonomi Thailand, Malaysia dan Filipina5.

Dua ilustrasi di atas menggambarkan dengan jelas bahwa betapapun sesuatu yang menurut persepsi manusia dianggap sebagai suatu kemapanan atau kesempurnaan, pada kenyataannya belumlah tentu demikian. Hal tersebut sekaligus menunujukkan keterbatasan pengetahuan manusia tentang segala sesuatu. Ketika seorang pakar telah menemukan suatu teori tertentu pada masa tertentu, pada dasarnya ia barulah mencapai satu tingkat kemajuan dari pakar pendahulunya, dan di masa mendatang teorinya tadi bisa jadi akan terbantah oleh generasi sesudahnya, karena ketidaksempurnaannya tadi.

Demikian juga dengan situasi krisis yang hingga saat ini masih sangat dirasakan oleh sebagian besar komponen bangsa ini. Meskipun berdasarkan analisis seorang pakar ekonomi dari Goldman Sach Perancis, Adam Le Mesurier, yang juga didukung oleh pendapat William Belchere, seorang direktur riset JP Morgan Chase Asia di Hongkong, bahwa keadaan ekonomi Indonesia sebenarnya tak tergoyahkan (the unshakable economy)6 yang disebabkan kinerja perekonomian makro Indonesia yang cukup baik belakangan ini, namun kenyataan di lapangan yang dirasakan mayoritas rakyat saat ini adalah situasi yang masih sangat menyulitkan.

Sampai saat ini belum pernah ada dari kalangan manapun yang bersepakat mengatakan bahwa bangsa Indonesia telah berhasil keluar dari krisis multi dimensi yang melanda sejak tahun 1997. Tesis seorang analis etika sosial Gunnar Myrdal yang mengkategorikan negeri kita sebagai soft state (negeri yang lunak—terhadap korupsi dan tindak sejenisnya) belum terbantahkan. Bangsa kita menurut kriteria Myrdal, masih sangat jauh untuk disebut sebagai bangsa yang tegar (tough state)7. Jika demikian keadaannya, maka jelaslah bahwa problem krisis yang terjadi kini bukanlah semata dari segi ekonomi, melainkan karena faktor psikologis yang dirasakan komponen bangsa ini; yakni bagaimana komponen bangsa ini menyikapi semua peristiwa yang terjadi dengan kebesaran hati dan jiwanya, serta bagaimana mereka memperbaiki segala kesalahan yang telah dilakukan selama ini. Jadi pada tataran ini karakterlah yang menjadi tolok ukur etos bangsa. Maka di sinilah peran manajemen qolbu (MQ) menjadi relevan.
MQ dalam hal ini memberikan spirit bagi seluruh komponen bangsa agar mempunyai kemauan untuk segera merubah paradigma lama yang jauh dari nilai-nilai religius, menjadi paradigma yang lebih memiliki ruhiah-ilahiah, karena masyarakat kita memang sejak dari dulu dikenal sebagai masyarakat yang religius.

B.Konsep Manajemen Qalbu
1. Memahami Makna dan Berbagai Istilah Tentang Qalbu
Dalam ajaran Islam, hati (Arab : al-qalb) mempunyai kedudukan yang sangat penting. Ia merupakan pokok dan menjadi pemimpin yang dipatuhi dalam sistem kerja organ-organ tubuh. Organ-organ lain tubuh bagaikan rakyat yang tunduk pada setiap perintah hati; sebagaimana alam ini tunduk dan patuh pada ketentuan dan hukum-hukum Allah. Hati juga merupakan tempat keberadaan iman, taqwa dan hidayah8.

Istilah hati (al-qalb) dikenal untuk menyebut dua hal. Pertama, segumpal daging sanubari yang terletak di sebelah kiri dada. Ia adalah daging yang istimewa, di dalamnya terdapat rongga yang berisikan darah yang merupakan sumber dan pusat ruh. Hati dalam bentuk seperti ini juga terdapat pada struktur tubuh binatang. Al- qalb dalam pengertian seperti ini lebih tepat diartikan “jantung”9.

Pengertian kedua adalah hati yang bersifat rabbani ruhani (ketuhanan dan keruhanian) yang merupakan hakekat manusia. Hati yang seperti ini adalah hakekat spiritual manusia, yaitu yang mengetahui, mengerti dan memahami; dicela, di beri tuntutan dan mendapat perintah (Q.S. al-Ahzab: 5). Hati dalam pengertian inilah yang akan menjadi pembahasan dalam tulisan ini.

Hati batiniah berfungsi hampir sama dengan hati jasmaniah. Jika hati jasmaniah terletak pada titik pusat tubuh, maka hati batiniah terletak di antara diri rendah (nafs) dan jiwa yang luhur (al-ruh). Hati jasmaniah mengatur sistem fisik, dan hati batiniah mengatur sistem psikis. Hati jasmaniah memelihara tubuh dengan mengirimkan darah segar dan beroksigen kepada tiap sel dan organ di dalam tubuh. Akan tetapi ia juga menerima darah kotor melalui pembuluh darah vena. Demikian pula dengan hati batiniah; hati batiniah (nurani) juga berada dalam siklus yang tetap, yang mengatur arus bolak-balik antara pengaruh ruh yang suci dan jiwa (nafs) yang kotor.
Oleh karena itulah hati dalam bahasa Arab disebut qalb dari akar kata q-l-b, yang berarti memutar, merubah atau mengganti. Hati mempunyai sifat yang berubah, beralih (munqalib) dari sifat ke sifat9. Ia memelihara jiwa dengan memancarkan kearifan dan cahaya untuk dapat menyucikan kepribadian dan sifat-sifat buruk. Hati memiliki satu wajah yang menghadap ke dunia spiritual, dan satu wajah lagi menghadap ke dunia diri rendah dan sifat-sifat buruk kita10.

a.Stasiun-Stasiun Hati
Menurut al-Hakim al-Tirmidzi, seorang guru sufi yang hidup pada abad ke delapan Masehi, hati manusia memiliki empat stasiun : shadr (dada), qalb (hati), fu’âd (hati lebih dalam), dan lubb (lubuk hati terdalam). Keempat stasiun ini mempunyai susunan bagaikan sekumpulan lingkaran. Dada adalah lingkaran terluarnya, hati (qalb) dan hati lebih dalam (fu’âd) berada pada kedua lingkaran tengah, dan inti hati (lubb) terletak pada pusat lingkaran. Keempat stasiun ini bagaikan area yang berbeda dari sebuah rumah. Dada adalah area terluar. Bagaikan pinggiran dari sebuah rumah yang berbatasan dengan daerah luarnya, tempat binatang–binatang buas dan orang-orang asing berkeliaran. Ia adalah perbatasan hati (ruhani) dan dunia (jasmani).

Hati (qalb) dapat disamakan dengan rumah itu sendiri. Ia dilingkari oleh tembok-tembok dan diamankan dengan gerbang atau pintu pagar yang terkunci. Hanya anggota keluarga dan tamu yang diundanglah yang boleh memasukinya. Sedangkan hati lebih dalam (lubb) adalah kamar terkunci yang menyimpan benda-benda pusaka berharga milik keluarga tersebut. Hanya beberapa anggota keluarga yang memiliki kuncinya.

Kaum sufi sering menyebut al-qalb dengan sebutan bait al-hikmah (hati yang menghasilkan keikhlasan), bait al-Muqaddas (hati yang berhubungan dengan orang lain), bait al-muharram (hati yang mengenal dan mencintai Allah dan diharamkan selainnya), bait al-‘izzat (kalbu yang sampai pada tingkat al-jama’ ketika seorang dalam kondisi fana manuju Allah, dan al-‘iffah al-mubîn (puncak tertinggi dari kalbu manusia)11.
Tiap-tiap stasiun hati mewadahi cahayanya sendiri. Dada mewadahi cahaya amaliah dari bentuk praktik setiap agama, hati mewadahi cahaya iman, hati lebih dalam mewadahi cahaya ma’rifat atau pengetahuan akan kebenaran spiritual, dan lubb mewadahi dua cahaya, cahaya kesatuan, dan cahaya keunikan yang merupakan dua wajah Ilahi. Tiap-tiap stasiun juga dikaitkan dengan tingkat spiritual yang berbeda-beda, tingkat pengetahuan dan tempat pemahaman yang berbeda, serta tingkat nafs yang berbeda.

Robert frager menggambarkan berbagai tingkatan cahaya pada tiap stasiun itu sebagai berikut :
“Beberapa orang musafir suatu ketika bermalam di suatu rumah yang tidak berpenghuni dan gelap gulita. Di sana mereka menghidupkan lampu untuk kemudian dapat membuka pintu dan jendela agar cahaya rembulan dapat memancar ke dalam rumah itu sebagai cahaya tambahan. Setelah itu para musafir ke luar ke padang pasir, bernaung di bawah cahaya rembulan. Pada saat itu mereka sudah tidak memerlukan lagi cahaya lampu. Fajar kemudian menyingsing menutupi cahaya rembulan hingga akhirnya matahari sampai pada puncaknya dan cahaya pajar tinggal sebatas kenangan bagi mereka”. 17


Rumah yang gelap tersebut adalah gambaran nafs tirani yang menghalangi seluruh cahaya. Lampu adalah cahaya akal, dan ketika akal mulai meningkat dan digunakan pada pengetahuan tindakan lahiriah, ia ibarat kemunculan rembulan (stasiun shadr). Cahaya iman bagaikan cahaya fajar (stasiun hati), kemudian melalui penglihatan yang diperleh melalui cahaya Tuhan, cahaya tersebut menjadi semakin terang (stasiun fu’âd). Ia kemudian terus semakin terang melalui cahaya kesatuan dan terus mencapai puncak kekuatannya (stasiun lubb).

b. Antara Hati, Jiwa, Nafs dan akal budi
Mengetahui dan membedakan keempat istilah ini adalah sangat penting. Sebab pembahasan keempat masalah ini dapat dikatakan sangat jarang bahkan terkadang menjadi rancu. Penjelasan mengenai keempat istilah ini umumnya mengacu pada penjelasan al-Ghazali dalam bab “penjelasan makna jiwa, ruh, hati dan akal pikiran” dari kitab Ihya’ ‘Ulumuddîn. Penulis akan mencoba mengidentifikasi pengertian, nama, batasan-batasan dan simbol-simbol yang digunakan.

Para filosof, sebagaimana disebutkan oleh al-Razi, berpendapat bahwa secara total manusia terdiri dari tiga elemen jiwa yaitu : pertama nafsu (hasrat) yang biasa dihubungkan dengan hati (liver). Kedua, amarah yang biasa dikaitkan dengan hati (sebagai jantung) dan ketiga, nalar yang lazim dikaitkan dengan otak.

Ibnu Sina juga menyatakan dalam al-Qanûn-nya bahwa manusia memiliki tiga bagian penting dalam tubuhnya; kalbu (jantung), otak dan hati (liver). Tiga organ pokok ini adalah organ yang menjadi dasar potensi utama bagi tubuh dan dibutuhkan untuk keberlangsungan individu. Jantung menjadi dasar potensi kehidupan, otak menjadi dasar kedua potansi indera dan gerak, dan hati (liver) menjadi dasar potensi bagi transformasi makanan18. Hati dalam pengertian ini bukanlah makna hati batiniah, melainkan hati dalam pengertian jasmaniah.

Hati, jiwa, ruh dan akal budi, sebagaimana disebut Sa’id Hawwa, terkadang bisa bermakna tunggal. Nama-nama tersebut dapat berubah karena perubahan ruh manusia yang bermacam-macam. Apabila nafsu syahwat dapat mengalahkan ruh, maka ia disebut hawa nafsu (diri rendah menurut istilah Frager). Jika ruh dapat mengalahkan syahwat, ia disebut akal, sedangkan jika penyebabnya adalah rasa keimanan, ia disebut hati. Dan apabila ia mengenal Allah dengan seebenar-benarnya dan melakukan ibadah dengan tulus, maka ia disebut ruh19.

b.1. Al-Qalb (Hati)
Sepeti yang telah banyak dijelaskan di muka, kalbu merupakan pimpinan mutlak bagi seluruh tubuh. Ia adalah organ halus yang dapat menerima sinyal-sinyal ketuhanan, dan yang paling penting berkaitan dengan pembahasan manajemen qalbu seperti dikatakan Sa’id Hawwa, ia adalah pusat garapan pendidikan Islam karena ia merupakan lokus ingatan dan pemahaman. Kalbu adalah lokus dimana realitas-realitas dapat dimengerti dan dipahami20.

b.2. Al-Ruh
Istilah ruh sebagaimana juga kalbu, merujuk pada dua makna. Makna pertama adalah jisim atau jasad halus yang bersumber dari rongga hati jasmani. Ia tersebar ke seluruh bagian tubuh dengan perantara urat nadi, dan juga tersebar ke aliran-aliran darah dalam tubuh serta ke aliran sumber hidup, sember instink, sumber penglihatan, sumber pendengaran, dan sumber penciuman menuju organnya masing-masing. Ia sama dengan aliran cahaya pelita yang menerangi setiap sisi rumah, sehingga tidak ada bagian rumah yang tidak mendapatkan cahayanya.

Seperti halnya demikianlah hidup ini. Ia sama dengan cahaya yang liputannya menyebar luas, ruh sama dengan pelita. Aliran dan gerakan ruh dalam batin sama dengan aliran atau perambatan cahaya pelita yang terdapat di setiap sisi rumah dengan bahan pembakarannya yang terbakar. Para dokter menyebut ruh sebagai uap yang sangat halus yang bisa mematangkan panasnya hati21.

Makna kedua, adalah perasaan halus (lathîfah) manusia yang mengetahui dan mengerti. Ia merupakan perkara dan urusan yang luar biasa, hingga kebanyakan akal dan pemahaman manusia tidak mampu menangkap hakikatnya. Inilah maksud firman Allah : “ Katakanlah, ruh itu termasuk urusan Tuhanku. (Q.S. al-Isra’ :85).

b.3. al-Nafs (Diri, Ego)
Nafs memiliki banyak konotasi makna. Namun secara garis besar ia dapat digolongkan menjadi dua makna, yaitu: pertama, cakupan makna dari kekuatan amarah dan syahwat (birahi) dalam diri manusia. Pengertian inilah yang sering digunakan oleh para ahli tasawuf, karena maksud al-nafs menurut mereka adalah dasar cakupan sifat-sifat tercela dari manusia. Hal ini didasarkan pada sebuah sabda Nabi : “Musuh mu yang paling besar adalah nafsumu yang ada di antara kedua lambungmu”. ( H.R. Baihaqi).

Makna kedua, perasaan halus yang menjadi hakekat manusia. Ia adalah jiwa manusia dan hakikatnya, hanya saja nafs ini dapat berwujud multi dimensi, tergantung keadaan. Mana kala ia masih terkendali, maka ia disebut an-nafs al-muthma’innah (jiwa yang tenteram) seperti firman Allah : “Wahai jiwa yang tenteram, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridlai-Nya”. ( QS. Al-Fajr : 27-28).

Bila nafs itu belum sempurna, namun tetap menyerang dan membuka front dengan hawa nafsu, maka nafs yang demikian disebut dengan an-nafs al-lawwâmah (jiwa yang menyesali dirinya sendiri). Sebab nafs tersebut mencerca pemiliknya ketika dia melalaikan pengabdian kepada Tuhannya. “Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)” (Q. S. Al-Qiyamah : 2).

Namun bila nafs telah menjauhi pertentangan, tunduk dan taat pada kehendak hawa nafsu dan godaan-godaan setan, nafs itu dinamakan an-nafs al-ammârah bi al-su’ ( nafsu yang menyerah pada kejahatan). Allah swt. berfirman menceritakan istri Al-Aziz : Dan aku tidak membebaskan diku dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan. (QS. Yusuf : 53). Nafsu seperti inilah jenis nafsu dalam pengertian pertama di atas.

b.4. Akal Budi

Kadang kala istilah akal dimaksudkan pada ilmu tentang hakikat segala sesuatu, dan ini adalah sifat dari ilmu yang terdapat di dalam hati. Terkadang juga ia dimaksudkan pada ilmu yang mengetahui segala ilmu. Yakni hati yang memiliki perasaan halus.

Sebagaimana diketahui, setiap orang yang berilmu memiliki sebuah wujud di dalam dirinya sendiri yang independen. Ilmu adalah sifat yang menempati sebuah wujud tersebut dan merupakan sifat yang tiada tersifati. Sedangkan akal adalah sifat orang yang berilmu, atau biasa juga diartikan sebagai tempat pengetahuan22.

Dalam istilah-istilah keislaman sering dijumpai istilah akal taklifi dan akal syar’i. Akal jenis pertama dimiliki setiap manusia selama dia tidak gila. Akal tingkat ini adalah tingkatan terrendah yang dimiliki oleh seseorang mukallaf dan nantinya akan dimintai pertanggungjawaban.

Jenis yang kedua adalah akal syar’i . Akal jenis ini bertempat di dalam hati serta memiliki tingkatan-tingkatan. Manifestasi akal ini yang paling sempurna adalah pengekangan terhadap nafsunya berdasarkan perintah Allah, disamping penyerahan dan pengenalan terhadap-Nya. Jenis akal ini, dan cara mencapai tingkatan akal yang demikian merupakan objek kajian ilmu tasawuf.

Dari semua uraian di atas jelaslah bahwa hati (dalam pengertian lathîfah) merupakan inti dari semua organ yang ada dalam diri manusia. Ia merupakan inti dari seluruh cahaya kebaikan. Segala usaha pembersihan dalam perjalanan ruhani seperti penyucian jiwa (tazkiyyat/ tashfiyyat al-nafs), penerangan hati (tanwir al-qulũb), maupun konsep manajemen qolbu (MQ) yang akan menjadi topik pembahasan di sini, merupakan usaha awal dalam rangka membersihkan dan menyingkap berbagai tabir yang menutupi cahaya murni yang bersumber dari lubuk hati terdalam (lubb) yang telah dikaruniakan Allah kepada manusia.

Kemampuan manusia untuk mencapai derajat ma’rifatullah dengan hatinya yang bersih dalam hal ini bagaikan kemampuan manusia untuk menghancurkan benda-benda keras dengan pukulan “tenaga dalamnya”. Dalam keadaan normal manusia memang mustahil dapat melakukan hal-hal semacam itu. Akan tetapi hal itu secara empiris bisa bahkan seringkali terjadi, setelah ia dapat melatih diri sehingga potensi yang memang sesungguhnya dimiliki setiap orang itu berhasil ia peroleh dengan melakukan latihan-latihan tertentu.

3. Manajemen Qalbu dalam Pespektif
a.Perspektif Umum Kaum Sufi
“Jika langit sirri telah bersih dari mendung sitru, maka matahari kesaksian akan terbit dari bintang kemuliaan” (al-Qusyairi)

Para sufi telah sepakat bahwa satu-satunya jalan untuk mencapai penyaksian Tuhan (musyahadah) adalah dengan kesucian jiwa. Hati manusia merupakan refleksi dzat Tuhan yang suci, dan karena itu hati manusia harus mencapai tingkat kesucian dan kesempurnaan23. Untuk mencapai hal itu setiap muslim haruslah memiliki semangat dan ketekunan yang kontinu untuk dapat sampai dan memperoleh hati yang bening, bersih dan selamat (qalbun salîm).
Menurut Imam Abu Hamid al-Ghazali, kemuliaan dan keutamaan manusia terletak pada kesiapan manusia untuk mengenal (ma’rifah)24 Allah sang Pencipta. Karena pengenalan manusia kepada Allah itulah manusia memperoleh keindahan, kesempurnaan dan kebanggaan hidup di dunia, dan kelak di akhirat ia akan memperoleh apa yang dijanjikan oleh-Nya.

Dalam pandangan al-Ghazali, pengenalan manusia terhadap dzat-Nya (ma’rifatullah), adalah melalui hatinya. Hatilah yang dapat mengenal-Nya dan ia pula yang dapat mendekatkan manusia kepada-Nya. Hati juga dapat berinteraksi dengan Allah dan selalu berjalan menuju kepada-Nya. Hati merupakan media penyingkap apa yang berada di sisi-Nya serta yang dimiliki-Nya. Fungsi dari semua anggota tubuh manusia tidaklah lebih dari sekedar pengikut atau pembantu hati dalam upaya menuju kepada-Nya. Hati akan memperoleh kemenangan dan merasakan kesenangan jika selalu dekat dengan Allah sepanjang manusia menjaga kebersihannya. Dalam keadaan lain hati akan menderita dan hilang harapannya jika ia dalam keadaan kotor dan berlumuran najis. Ketaatan dan kemungkaran kepada Allah adalah tingkah laku hati yang terefleksi dalam perbuatan lahir. Kegelapan dan terangnya hati akan menampakkan bekasnya dalam bentuk amal perbuatan baik dan buruk, seperti halnya setiap gelas akan memancarkan apa yang ada di dalamnya25.

Jika manusia telah mengenal hatinya, berarti dia telah mengenal dirinya. Dan apabila seseorang telah mengenal dirinya sendiri, maka ia telah mengenal Tuhannya. Dan bahwa Allah swt. bersemayam di antara diri dan hati seseorang agar ia dapat menyaksikan-Nya, dapat mengenal sifat-sifat-Nya, mengenal gerak-gerik hati mereka yang berada di antara dua jari Al-Rahman.

Selain itu manusia juga dikaruniai sifat-sifat ketuhanan seperti senang berkuasa, keistimewaan, otoriter, ingin serba tahu dan yang lainnya. Bersamaan dengan itu ia dikaruniai sifat-sifat binatang seperti emosi dan nafsu syahwat. Kesemua karakter itu terdapat di dalam hati manusia26.

Dengan demikian dalam diri manusia terdapat empat kombinasi unsur pokok yaitu sifat ketuhanan, sifat setan, sifat kebuasan dan sifat kebinatangan. Empat campuran ini bersenyawa dalam hati, sehingga di balik penampakan luar manusia seakan terkumpul binatang babi, anjing, setan dan orang bijak. Babi diibaratkan oleh al-Ghazali sebagai hawa nafsu, dan anjing diibaratkan amarah; dimana keduanya memiliki kecenderungan berbuat aniaya dan tercela. Setan adalah simbol yang senantiasa mengobarkan hawa nafsu, membangkitkan keberingasan, dan rasa geram yang dimiliki oleh sifat babi dan binatang buas.ia selalu membenarkan tindakan babi dan binatang buas.

Adapun orang bijak, ia adalah perumpamaan akal manusia yang senantiasa berjuang melawan tipu daya setan serta menyingkap tipu muslihatnya dengan pendangan batinnya yang tajam dan kebijakannya yang tegas. Ia bagaikan seorang manajer dari kedua kekuatan anjing dan babi, sehingga apabila ia berhasil mengelola keduanya dengan baik, maka akan terjadi keseimbangan dan keadilan dalam kerajaan badan, hingga seseorang akan berjalan di atas jalan yang lurus. Maka keberhasilan seseorang dalam mengekang syahwat dan amarahnya itu akan memunculkan sifat-sifat pemberani, dermawan, penolong, pengendali hawa nafsu, sabar, murah hati, tabah, pemaaf, tegar pendirian, ramah, cerdas, berwibawa dan sebagainya27.

Selain itu hati juga diibaratkan sepeti cermin yang dikelilingi oleh hal-hal potensial yang mengelilinginya. Pengaruh kebaikan akan membuat cermin tersebut semakin bersih, mengkilap, cemerlang dan bersinar. Dengan demikian sinar kebenaran akan terpancar darinya, sehingga hakikat agama akan tersingkap. Mengenai hal ini Nabi bersabda : “ Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Allah menjadikan hatinya sebagai penasihatnya”.(H.R. ad-Dailami). Dan sabdanya : “ Barang siapa mempunyai penasihat dari hatinya, niscaya ada penjaga dari Allah untuknya.” Hati inilah yang selalu mengingat Allah (Q.S. Ar-Ra’du : 28).

Sebaliknya pengaruh keburukan bagi hati adalah ibarat cermin yang diterpa asap hitam, sehingga cermin yang pada dasarnya cemerlang itu menjadi menghitam dan pekat, hingga seluruh permukaannya tersekat dari Allah swt. Inilah maksud firman Allah : “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang mereka usahakan itu menutupi hati mereka”. (Q.S. Al-Muthaffifîn :14). Juga ayat : “……….dan kami kunci mati hai mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)” (Al-A’raf : 100).

Apabila dosa telah bertumpuk-tumpuk, ia akan menutupi hati sehingga hati tidak akan mampu mengetahui kebenaran dan kebaikan agama. Ia akan meremehkan urusan akhirat dan mennganggap penting urusan dunia, hingga ia mencurahkan segala pehatiannya pada urusan dunia. Maimun bin Mahran berkata : “Apabila seorang hamba melakukan suatu dosa, maka noda hitam akan melekat di hatinya. Apabila ia menghapusnya dan bertobat, hati terssbut akan mengkilap kembali. Dan apabila ia mengulanng berbuat dosa, maka noda yang ditimbulkan lebih hitam dari noda lama yang telah terhapus, sampai-sampai ia mampu mengalahkan hatinya”. Pendapat ini diperkuat hadits Nabi : “Hati orang mukmin itu bersih, di dalamnya terdapat pelita yang bercahaya. Sedang hati orang kafir itu hitam seluruh permukaannya”. (H.R. Thabrani dan Ahmad)28.

Terangnya hati dan kemampuannya untuk melihat (ma’rifah) dapat dicapai dengan berdzikir. Dan dzikir tidaklah mungkin dilakukan kecuali oleh orang-orang yang berakwa. Maka taqwa dalah pintu dzikir, dan dzikir adalah pintu tersingkapnya rahasia-rahasia ilahi (al-kasyf), dan al-kasyf adalah kemenangan terbesar, yaitu pertemuan dengan Allah swt.

Perbuatan buruk yang diikuti perbuatan baik akan terhapus nodanya, dan tidak menghitamkan hati. Akan tetapi ia akan dapat mengurangi cahaya hati. Hal ini diibaratkan sepeti cermin yang ditiup kemudian diusap, lalu ditiup dan diusap lagi, maka ia tetaplah keruh29.

Adapun masuknya pengaruh-pengaruh yang muncul di dalam hati, dalam keadaan apapun hanya akan muncul melalui sarana lahir yaitu panca indera, atau melalui sarana batin seperti khayalan, syahwat, amarah, dan akhlak yang terbentuk dari tabiat manusia. Manakala panca indera menangkap suatu objek, kesan yang ditimbulkannya akan membekas di dalam hati. Demikian juga apabila syahwat sedang berkobar lantaran terlalu banyak makan atau karena tabiat syahwat memang kuat, maka bekasnya akan sampai pula dalam hati. Jadi hati itu selalu berubah-ubah dan tepengaruh oleh sebab-sebab tertentu30.

Dengan demikian menjaga dan memelihara kebersihan hati menjadi sangat penting. Seseorang hendaknya menyibukkan diri menahan serangan-serangan musuhnya (setan melalui was-was). Ia harus betul-betul mengetahui apa yang harus dipersiapkan untuk itu, agar dapat menolak tipu daya setan dan gejolak nafsu. Dari sini diketahui betapa pentingnya berbagai wiridan dan dzikir sebanyak-banyaknya, I’tikaf, khalwat (mengasingkan diri dari hal-hal yang berpretensi maksiat), takhannust (perenungan) dan lainya, sebagaimana Rasulullah melakukannya di gua hira` menjelang wahyu pertama turun31.

Mengenai berapa jumlah dzikir dan wiridan yang harus dibaca seseorang (sâlik), para guru (mursyid) biasa menyesuaikannya dengan kondisi rohani setiap orang. Keadaan hati yang sangat gelap tentu saja memerlukan lebih banyak dzikir agar ia dapat segera berpindah dari sata khal (kondisi ruhaniah) ke khal berikutnya yang lebih tinggi, hingga ia dapat segera mencapai tingkatan makrifatullah.
Para pengamal sufisme yang melakukan perjalanan ruhaninya melalui tarekat biasa menyebut usaha menjaga kebersihan, kebeningan dan keselamatan hati ini dengan mujahadah (perjuangan di jalan Tuhan). Al-Hujwiri menyebut bahwa mujahadah adalah usaha bersusah payah dalam melakukan disiplin ibadah yang ketat dan berjuang keras melawan hawa nafsu untuk mencapai musyahadah (penyaksian). Mujahadah adalah bukti kekokohan cinta seorang sufi kepada Yang Satu32.

b. Perspektif K.H. Abdullah Gymnastiar
Pembahasan tentang manajemen qalbu memang tidak bisa lepas dari hadits Nabi riwayat Imam Bukhari tentang posisi hati bagi keseluruhan anggota tubuh manusia yang artinya : “Sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal darah. Apabila ia baik, maka seluruh tubuh juga akan baik. Namun apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, sesungguhnya segumpal darah itu adalah hati”. Tidak terkecuali bagi K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Sebagaimana Imam al-Ghazali, Aa Gym mengannggap bahwa mengurus hati merupakan pekerjaan yang harus diutamakan, mengingat hati adalah raja yang memiliki bala tentara bagi seluruh sistem anggota tubuh. Karena itu menurutnya, tidaklah mungkin kita mengurus anggota tubuh yang lain sedangkan rajanya diabaikan.

Shalat atau ibadah yang lain tidak akan bisa khusyu’ manakala hatinya tidak khusyu. Manusia tidak akan mungkin dapat menyampaikan sesuatu jika tidak mengetahui ilmu hati. Hati adalah masalah yang paling essensial, karena segala sesuatu akan dimulai dari hati.

Mana kala hati sudah bersih, maka keakraban dengan Allah akan segera terjalin. Kebesaran Allah tidak dapat ditampung oleh luasnya langit dan bumi, akan tetapi hati manusia yang beriman dapat menampung kebesaran Ilahi33. Akan tetapi menurut Aa Gym, keutamaan hati yang demikian itu perlu ditunjang dengan kecerdasan otak dan kekuatan fisik. Oleh karena itu di pesantren Daarut Tauhiid, ketiga elemen ini benar-benar diprioritaskan semaksimal mungkin34.

a. Hakikat Manajemen Qolbu

Manajemen qalbu bagi Aa Gym adalah mengenal dengan baik potensi dan masalah hati untuk selanjutnya dikembangkan kemampuannya secara optimal dan mengeliminir masalah yang timbul akibat kesalahan mengelolanya35.

Menurut Aa Gym, inti konsep menajemen qalbu adalah memahami diri dengan sebenar-benarnya untuk kemudian mampu megendalikannya melalui hati. Hatilah yang menunjukkan watak dan siapa diri kita yang sebenarnya. Bila hati telah menjadi bersih, bening dan jernih, maka keseluruhan diri kita juga akan menampakan kebersihan, kebeningan dan kejernihan. Hati yang bersih adalah hati yang senantiasa membuat pikiran bekerja efekif lantaran hanya kebaikanlah yang dipikirkannya36.

Maka apabila hati seseorang telah dibuat bersih atas usaha yang dilakukannya sendiri, ia akan menjadi pusat perhatian segala aktivitas di bumi. Orang yang hatinya dapat dibuat bersih secara otomatis akan membuat gerak-geriknya memiliki magnet yang luar biasa. Sikapnya akan menunujukkan bahwa dia senantiasa sedang diawasi oleh Allah swt., dan totalitas dirinya menapakkan sebuah keadaan bahwa hanya ridho Allah yang ia harapkan. Dalam kaitan ini Aa Gym bersyair yang kemudian didendangkan oleh kelompok nasyid Snada sebagai berikut37 :
Jagalah hati jangan kau kotori
Jagalah hati lentera hidup ini
Jagalah hati jangan kau nodai
Jagalah hati cahaya ilahi

Bila hati kian bersih pikiranpun akan jernih
Semangat hidup nan gigih prestasi mudah diraih
Namun bila hati keruh batin selalu gemuruh
Seakan dikejar musuh dengan Allah kian jauh

Bila hati kian suci tak ada yang menyakiti
Pribadi menawan hati ciri mu’min sejati
Tapi bila hati busuk pikiran jahat merasuk
Akhlak kian terpuruk jadi makhluk terkutuk

Bila hati kian lapang hidup sempit terasa senang
Walau kesulitan datang dihadapi dengan tenang
Tapi bila hati sempit segalanya jadi rumit
Seakan terus terhimpit lahir batin terasa sakit


Aa Gym selanjutnya menjelaskan bahwa ada tiga aspek penting untuk dapat menjelaskan konsep praktis Manajemen Qolbu. Pertama, kita memiliki tiga potensi berupa jasad, akal dan qalbu. Hanya dengan qalbu yang bersihlah potensi jasad atau akal itu akan terkendalikan dengan baik. Jasad atau fisik kita tidak dapat mengambil keputusan. Ia hanya menyalurkan hasil proses akal, dan qalbu kita membuat apa yang diwujudkan oleh fisik dan akal kita menjadi bernilai.

Kedua, potensi kita yang terus diarahkan kepada kebaikan akan menjadi sangat efektif daya gunanya apabila dimulai dari diri sendiri. Seseorang yang menggunakan potensinya dengan prinsip untuk memperbaiki kemampuan dirinya, juga akan bermanfat bagi lingkungannya. Ketiga, keadaan untuk memperbaiki diri sendiri perlu dibiasakan secara kontinu dan konsisten. Hal ini dilakukan dalam rangka menangkal setiap kecenderungan yang akan mengarahkan kita agar berpaling dari kebaikan38.

Footnote :
1 The New Horizon Ladder Dictionary of The English Language, (New York: Popular Library, 1969) h. 116.
2 Ensikloedi Indonesia Vol. IV, (Jakarta : Ichtra Baru –Vaan Hoeve, 1983), h. 1883.
3 Ibid.
4 Ali Zawawi dan Saifullah Ma’shum, Penjelasan Al-Qur’an Tentang Krisis Sosial, Ekonomi dan Politik ,(Jakarta : Gema Insani Press, 1999), h. 75.
5 M. Amin Rais, dalam Didin S. Damanhuri, Pilar-pilar Reformasi Ekonomi Politik: Upaya Memahami Krisis Ekonomi dan Menyongsong Indonesia Baru, (Jakarta: Pustaka Hidayah,1999), h. XV.
6 Cyrillus Harinowo, Musim semi Perekonomian Indonesia, (Jakarta : Majalah Tempo, Edisi 21-27 April 2003), h.106-107.
7 Dr. Nurcholish Madjid, Pintu-Pintu Menuju Tuhan, (Jakarta : Paramadina, 1994), h.185.
8 Dr. Zainun Kamal, Penyakit Hati dan Pengobatan ruhani, (Jakarta: Paramadina,1999, seri KKA ke 147 tahun XIV), h.3.
9 Said Hawwa, Jalan Ruhani, (Bandung : Mizan, 1996), cet. IV, h.44.
9 Ibn Manzhur, Lisan al-‘Arab, (Cairo: Daar al-Mishriyah), dalam CD Rom
10 Robrt Frager,Loc. cit., h. 54. Bandingkan dengan Dr. Zainun Kamal, Op.Cit., h. 2.
11 Abd. Razak al-Kasyani, Mu’jam al-Isthilahat al-shufiyat, (Cairo : Daar al-Ma’arif, 1984) h. 39 dan 53. semua nama tersebut merupakan nama lain dari ka’bah di masjidil haram. Oleh karena itu banyak para sufi yang menyebut hati sebagai ka’bah karena ia sama-sama disebut sebagai rumah Tuhan (baitullah). Lih. Sachiko Murata, The Tao Of Islam, (Bandung : Mizan, 1996), cet. I, h. 387.
17 Robert Frageer, Op. Cit., h. 75.
18 Imam al-Razi, Ruh dan Jiwa: Tinjauan filosofis dalam perspektif Islam, Terj. Mochtar Zoerni, (Surabaya : Risalah Gusti, 2001), cet. II. h.146.
19 Said Hawwa, h. 48.
20 Al-Razi, h. 124.
21 Said Hawwa, h. 45
22 Said Hawwa, op. cit., h. 47.
23 Harian Republika, Edisi Jum’at, 2 Mei 2003, h. 18.
24 Ma’rifah atau ‘irfan adalah bentuk mashdar (kata sifat) dari kata kerja ‘arafa-ya’rifu yang berarti pengetahuan atau pengalaman (terhadap objek batin/gnosis dengan mengetahui rahasianya). Dalam sistem tasawuf sunni, ia merupakan kedudukan (maqâm), atau ada juga yang menyebut sebagai keadaan (khal) tertinggi yang diperoleh seorang sufi. Atau ada juga yang berpendapat bahwa ia berada satu tingkat di bawah al- mahabbah; karena pada umumnya mereka menolak paham kesatuan wujud (wahdah al-wujûd); tingkat kedudukan tertinggi dalam sistem tasawuf falsafi. Lih. Abuddin Nata, MA., Akhlak Tasawuf, (Jakarta : Rajagrafindo Persada, 2000), cet. III, h. 219-121.
25 Al-Ghazali, Manajemen Hati, terjemahan KH. A. Musthofa Bisri & Achmad Frenk, (Surabaya : 2002) cet. II, h. 80.
26 Ibid., h. 113.
27 Al-Ghazali, Ibid., h. 114. Tampaknya konsep manajemen qolbu (MQ) Aa Gym sangat mengacu atau setidaknya sangat berhubungan erat dengan pembahasan ini. Aa Gym sendiri sangat percaya bahwa apabila seseorang telah menjadi manajer yang baik bagi dirinya (hati), maka ia dengan sendirinya akan menjadi pusat perhatian segala aktivitas keduniaan. Lih. Aa Gym: Manajemen Qalbu II : Hakekat dan Efeknya, dalam Hernowo & M. Deden Ridwan, Loc. Cit., h.230.
28 Al-Ghazali, h. 120.
29 Al-Ghazali, Ibid., h. 120-121.
30 Ibid., 180.
31 Said Hawa, Loc. Cit., h. 118.
32 Abdul Hadi WM, Tasawuf Yang Tertindas, (Jakarta : Paramadina, 2001), h. 248. Istilah lain aktivitas penyucian hati di kalangan para sufi yang juga populer adalah “al-Riyâdhah”( secara kharfiah berarti pengolahan); yaitu dengan cara melakukan amalan-amalan ibadah, dzikir, tasbih, tahlil, dan sebagainya sesuai dengan ketentuan al-Qur’an dan hadits. Lih. Yunasril Ali, Pengantar Ilmu Tashawwuf, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1987) cet. I, h. 21.
33 Para pengarang sufi sering kali mengutip hadits qudsi yang artinya : “langit-Ku dan bumi-Ku tidak memeluk-Ku. Namun hati hamba-Ku yang lembut dan sabar dengan imannya benar-benar merengkuh diri-Ku”. Lih. Sachiko Murata, Op. Cit,h. 378.
34 Hernowo dan M. Deden Ridwan, Loc. Cit.,h. 46.
35 Ibid., h.48.
36 Aa Gym, dalam Hernowo & M. Deden Ridwan, Ibid., h.232).
37Secara bercanda Aa Gym menyebut syair ini sebagai lagu kebangsaan Indonesia II, Aa Gym, Aa Gym Apa Adanya, (Bandung: MQ Publishing, 2003), h. vii.
38 Op. Cit., h. 228-230.

Baca Selengkapnya......

Manajemen Kualitas Jasa


Dimensi Kualitas Jasa

Untuk membangun sebuah jasa yang berkualitas, perusahaan perlu memperhatikan lima aspek yang menjadi dimensi kualitas sebuah jasa. Lima aspek inilah yang akan dilihat pelanggan apakah sebuah jasa itu berkualitas atau tidak. Kelima aspek itu adalah:

• Tangibles: bukti fisik, yaitu kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan eksistensinya kepada masyarakat.
• Reliability: keandalan, yaitu kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan sesuai dengan yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya.
• Responsiveness: ketanggapan, yaitu kemauan untuk membantu dan memberikan pelayanan yang cepat (responsif) dan tepat kepada pelanggan, dengan penyampaian informasi yang jelas.
• Assurance: jaminan dan kepastian, yaitu pengetahuan, kesopansantunan, dan kemampuan para pegawai perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya para pelanggan kepada perusahaan. Terdiri dari beberapa komponen, antara lain komunikasi (communication), kredibilitas (credibility), keamanan (security), kompetensi (competence), dan sopan santun (courtesy).
• Empathy: memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau pribadi yang diberikan kepada para pelanggan dengan berupaya memahami keinginan konsumen.



Quality Gap

Pada dasarnya, yang disebut sebagai kualitas layanan adalah harapan pelanggan terhadap apa yang akan diterima perusahaan. Karena itu, tugas perusahaan adalah bagaimana mengelola harapan pelanggan agar tidak melebihi apa yang bisa diberikan perusahaan.

Namun demikian, dalam pemasaran jasa terdapat apa yang disebut sebagai “kesenjangan kualitas (quality gap)” yang menyebabkan kualitas jasa tidak sesuai dengan harapan konsumen. Ada beberapa hal yang menyebabkan kesenjangan kualitas ini:

1. Persepsi yang keliru pada manajemen mengenai kualitas layanan seperti apa yang diharapkan pelanggan. Dengan demikian, apa yang diberikan oleh perusahaan tidak sama dengan harapan.
2. Kesalahan konsep dalam menterjemahkan jasa yang diinginkan. Ini terjadi biasanya antara divisi marketing dan produksi. Konsep yang diberikan oleh divisi marketing berbeda hasilnya ketika diproduksi.
3. Keterbatasan sumber daya, dalam berbagai hal mulai dari manusia, uang ataupun peralatan yang tidak memadai yang mengakibatkan pelayanan konsumen tidak maksimal.
4. Kesalahan dalam penyampaian layanan dikarenakan keterampilan dan pengetahuan yang tidak memadai pada pegawai ataupun kesalahan prosedur layanan pelanggan.
5. Janji yang sulit dipenuhi, dalam hal ini karena promosi yang berlebihan, bagian produksi dan pelayanan pelanggan sulit memenuhi janji tersebut. Karena itu perlu kesepakatan dan prosedur standar perusahaan yang harus ditaati oleh semua karyawan.

Baca Selengkapnya......

Differensiasi


Definisi

Differensiasi adalah kegiatan menciptakan seperangkat perbedaan yang berarti untuk membedakan tawaran perusahaan dengan tawaran yang diberikan oleh para pesaing

Syarat-Syarat Differensiasi

• Dinilai penting oleh konsumen (important)
• Dapat dibedakan dengan penawaran perusahaan lain (distinctive)
• Unggul dalam memperoleh manfaat yang sama (superior)
• Dapat dikomunikasikan dan tampak (communicable)
• Sulit untuk ditiru oleh pesaing (preemptive)
• Pembeli mampu membayar perbedaan yang ditawarkan (affordable)
• Perusahaan mampu memperoleh laba (profitable).


Variabel Differensiasi

1. PRODUK
• Features: karakteristik yang melengkapi fungsi dasar produk
• Performance: tingkatan mutu di mana karakter utama produk beroperasi
• Conformance: tingkatan kedekatan desain produk dan karakter operasional dengan standar
• Durability: pengukuran usia harapan operasional produk
• Reliability: pengukuran probabilitas produk tidak malfungsi atau gagal dalam waktu tertentu
• Repairability: pengukuran kemudahan memperbaiki produk yang malfungsi atau gagal
• Style: bagaimana tampak dan rasa produk terhadap pembeli
• Design: keseluruhan mutu adalah parameter desain.

2. LAYANAN

• Delivery: seberapa baik produk atau layanan disampaikan
• Installation: pekerjaan dilakukan untuk membuat produk beroperasi di tempat yang direncanakan
• Customer training: pelatihan untuk menggunakan produk penjual dengan benar dan efisien
• Consulting service: data, sistem informasi, dan layanan nasihat yang diberikan gratis atau bayar
• Repair: mutu layanan perbaikan yang diberikan kepada pembeli
• Miscellaneous services: untuk membedakan dengan pesaing

3. PERSONNEL

• Competence: keterampilan dan pengetahuan
• Courtesy: ramah, hormat, dan bijak
• Credibility: dapat dipercaya
• Reliability: layanan diberikan dengan konsisten dan akurat
• Responsiveness: tanggap terhadap permintaan dan masalah pelanggan
• Communication: saling pengertian dan komunikasi yang jelas dengan pelanggan

4. CITRA
Identitas vs Citra
• Symbols: refleksi yang mencerminkan perusahaan atau merek
• Media: pemilihan sarana penyampaian citra
• Atmosphere: fuang fisik di mana organisasi memberikan produk atau layanan
• Events: sponsor acara yang merefleksikan citra perusahaan atau produk

Baca Selengkapnya......

Definisi dan Karakter Jasa


Definisi Jasa

Philip Kotler:
Setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Produksi jasa bisa berkaitan dengan produksi secara fisik ataupun tidak“ (Kotler, Marketing Management)

Berry:
A service is a deed, performance or effort, not a device, object or thing. (Berry, 1987)


Gonroos:
A service is a process consisting of a series of more or less intangible activities that normally, but not necessarily always, take place in interactions between the customer and service employees and/or physical resources or goods and/or systems of the service provider, which are provided as solutions to customer problems (Grönroos, 2000:46)


Karakter Jasa
Intangibility (tidak berwujud)
Jasa tidak bisa dilihat dan dirasakan oleh konsumen sebelum konsumen membeli atau mendapatkan penyedia jasa. Konsumen juga tidak bisa memprediksikan apa hasil yang akan diperoleh dengan mengkonsumsi jasa kecuali setelah membelinya. Seorang pasien tidak akan tahu apakah nasihat dokter itu berhasil kecuali setelah ia melakukan konsultasi dan mengikuti apa yang dinasehatkan.


Beberapa karakter dari intangibility adalah:
• Suatu jasa baru bisa dirasakan ketika jasa tersebut disampaikan kepada konsumen.
• Suatu jasa kadang terasa sulit dipahami konsumen.
• Suatu jasa sulit kadang sulit untuk dijelaskan kepad konsumen
• Penilaian akan kualitas sulit ditentukan oleh konsumen
• Harga sulit untuk ditentukan

Karena tidak berwujud, konsumen biasanya melihat tanda-tanda dan sesuatu yang bisa dilihat atau dirasakan untuk bisa menilai kualitas suatu jasa. Mereka akan melihat kualitas dari para pegawainya, peralatan, tempat, simbol, dan juga harga yang bisa mereka rasakan.

Tugas pemasaran adalah bagaimana hal-hal yang tidak terwujud itu bisa ditunjukkan dalam berbagai bentuk dan wujud yang bisa menunjukkan kualitas jasa. Para pemasar bisa melakukan beberapa hal:

• Visualisasi, yaitu penggambaran bagaimana suatu jasa diberikan kepada konsumen. Misalnya dengan penggambaran tentang kenyamanan dan kenikmatan suatu hotel, kenikmatan melakukan penerbangan, dan lain-lain sehingga konsumen bisa mendapatkan gambaran.
• Asosiasi, yaitu mengaitkan jasa yang ditawarkan dengan profil seseorang, objek, ataupun tempat.
• Representasi Fisik, dengan memperlihatkan gedung, fasilitas, dan berbagai hal yang mendukung jasa yang disampaikan.
• Dokumentasi, sertakan berbagai penghargaan, catatan kepuasan pelanggan, sehingga menumbuhkan kepercayaan pembeli.

Untuk menunjukkan bahwa lembaga pendidikan mempunyai kualitas yang baik misalnya, pengelola bisa menunjukkannya melalui kualitas yang bisa dilihat oleh konsumen, di antaranya:

• Gedung dan berbagai fasilitas di dalamnya. Apakah terlihat cukup nyaman, baik, dan memenuhi persyaratan untuk belajar.
• Penampilan dan kualitas dari pegawai dan dan tenaga pengajarnya. Tenaga pengajar dengan pendidikan memadai dan pegawai yang profesional dalam melayani calon murid/mahasiswa akan sangat membantu konsumen untuk menilai kualitas lembaga pendidikan tersebut.
• Materi iklan dan komunikasi pemasaran lain seperti brosur, leaflet, pamflet, website, dan lain-lain.
• Harga. Konsumen akan melihat kualitas yang ditawarkan dibandingkan dengan harga yang harus ia bayarkan.
Inseparability (tidak terpisahkan)
Sebuah jasa diproduksi dan dikonsumsi secara bersamaan. Sebuah produk yang ada secara fisik biasanya diproduksi di pabrik, didistribusikan oleh distributor, ke toko dan baru dikonsumsi oleh konsumen. Pada jasa, faktor penyedia jasa (orang) langsung berperan dalam produksi jasa. Karena konsumen juga menjadi salah satu faktor penting dalam proses penyediaan jasa, interaksi yang baik antara penyedia jasa dan konsumen menjadi faktor yang sangat penting. Karena itu, terkadang kualitas sebuah jasa tidak hanya ditentukan oleh faktor kualitas dari penyedia jasa, tetapi juga oleh kesungguhan dan komitmen dari konsumen.

Karakter dari inseparability adalah:
• Konsumen harus berpartisipasi dalam proses produksi jasa.
• Suatu jasa yang disampaikan terikat dengan satu penyedia jasa
• Jumlah jasa yang diberikan tergantung dari penyedia jasa

Pada sektor pendidikan misalnya, kesuksesan proses belajar-mengajar tidak hanya ditentukan oleh kualitas tenaga pengajar dan fasilitas yang baik, tetapi juga oleh kesungguhan dan komitmen dari murid/mahasiswa untuk belajar.

Karena itu, untuk mempertahankan kualitas dan memberikan jasa terbaik buat konsumen, pemasar perlu melakukan beberapa hal sebagai berikut:
• Pelatihan berkelanjutan tentang kualitas, kebijakan, dan teknik produksi.
• Lokasi yang banyak, website dan email untuk kemudahan konsumen
• Pelatihan untuk pegawai frontliner dan manajemen komplain pelanggan
• Ambil pegawai yang berkualitas dan mengetahui pemasaran
Variability (tidak ada standar)
Suatu jasa biasanya sulit dibuat standar kualitasnya, karena masing-masing mempunyai standar proses sendiri-sendiri tergantung kualitas dari proses internal penyedia jasa. Walaupun demikian, sedapat mungkin sebuah organisasi/perusahaan penyedia jasa seyogyanya membuat standar layanan agar kualitas jasanya bisa lebih dikontrol.

Karakter jasa dalam hal ini adalah;
• Jasa tidak bisa disampaikan dalam kondisi yang sama.
• Kualitas yang tidak sama menambah potensi resiko pada konsumen
• Perusahaan perlu mengurangi resiko pelanggan dengan memberikan jaminan kualitas, misalnya kartu garansi..

Kotler menyebut tiga hal yang bisa dilakukan untuk mengontrol kualitas pelayanan:
1. Melakukan seleksi pegawai yang baik dan meningkatkan keterampilan mereka melalui berbagai pelatihan.
2. Melakukan standarisasi proses layanan pada seluruh organisasi. Ini bisa dilakukan dengan menentukan “cetak biru layanan“ (service blue print) berisi seluruh alur proses penyediaan jasa mulai dari awal hingga akhir untuk memudahkan pengecekan kualitas setiap proses.
3. Memonitor kepuasan pelanggan melalui survey, feedback form, dan tanggapan serta keluhan pelanggan sehingga kualitas pelayanan yang kurang baik bisa dideteksi.
Perishability (tidak bisa disimpan)
Berbeda dengan produk, suatu jasa tidak bisa disimpan. Ia diproduksi dan dikonsumsi secara bersamaan dan tidak bisa disimpan. Efeknya pada pemasaran terutama pada sisi permintaan. Jika permintaan stabil akan memudahkan penyedia jasa untuk melakukan persiapan. Tetapi jika permintaan fluktuatif, lebih sulit bagi penyedia jasa untuk melakukan strategi pemasaran.

Untuk mengatasi fluktuasi permintaan yang sering mengakibatkan kelebihan supply, pemasar bisa melakukan beberapa hal:

• Meningkatkan penjualan dengan personal selling kepada klien baru pada saat permintaan menurun.
• Meningkatkan penjualan produk dan jasa baru kepada klien yang sudah ada pada saat permintaan menurun.
• Harga lebih tinggi saat permintaan naik, dan lebih rendah saat permintaan turun.
• Pakai sistem reservasi untuk menjual jasa di muka
• Pelatihan antar divisi berbeda untuk memenuhi permintaan yang tinggi.

Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Industri Jasa
Banyak sekali faktor yang mempengaruhi perkembangan industri jasa. Beberapa di antaranya adalah:
• Perubahan regulasi pemerintah. Beberapa contoh di antaranya adalah: jasa telekomunikasi yang dulu dimonopoli Telkom sekarang ini perusahaan swasta (Indosat) boleh masuk, dan bahkan di bisnis telepon seluler tidak ada monopoli. Jasa asuransi kesehatan, tenaga kerja dan pensiun yang dulu harus melalui Jamsostek sekarang ini bisa dilakukan oleh perusahaan swasta. Perubahan regulasi ini menumbuhkan sektor jasa yang cukup cepat.
• Tumbuhnya berbagai asosiasi profesional seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dan berbagai asosiasi lain yang mendorong tumbuhnya berbagai perusahaan profesional.
• Komputerisasi dan perkembangan teknologi.
• Tumbuhnya waralaba di berbagai sektor dan industri
• Tumbuhnya lembaga pembiayaan dan lembaga penyewaan
• Globalisasi

Perkembangan Pendidikan Sebagai Industri
• Globalisasi dan Perkembangan Teknologi
• Pergantian Status Universitas Negeri Menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN)
• Tumbuhnya Waralaba Pendidikan Asing
• Tumbuhnya Berbagai Sekolah Unggulan
• Kerjasama Pendidikan Asing Dengan Pendidikan Dalam Negeri
• Tumbuhnya Berbagai Kursus dan Program Luar Sekolah
• Tumbuhnya Jasa Pendaftaran Pendidikan Ke Luar Negeri

Baca Selengkapnya......

Analisis Peluang dan Pengelolaan Kebutuhan

Untuk melihat apakah terdapat suatu peluang untuk memasarkan produk atau jasa, pemasar perlu melihat dua faktor yang melingkupi perusahaan: faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor-faktor yang bisa dikendalikan perusahaan, meliputi penentuan strategi pemasaran dan strategi marketing mix. Sementara faktor eksternal adalah faktor-faktor yang tidak bisa dikendalikan meliputi lingkungan makro pemasaran, pasar konsumen dan pasar bisnis, serta kompetisi dalam industri.

Baca Selengkapnya......

Analisis Lingkungan Makro

Lingkungan makro terdiri dari enam lingkungan yang harus dilihat, yaitu: lingkungan demografi, lingkungan ekonomi, lingkungan alam, lingkungan teknologi, lingkungan politik, dan lingkungan budaya.

Lingkungan Demografi

Pertumbuhan penduduk. Angka pertumbuhan penduduk akan mempengaruhi tingkat peluang pemasaran bagi suatu produk ataupun jasa. Pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi akan semakin membuka peluang lebih luas, karena bagaimanapun akan terkait dengan seberapa besar suatu produk atau jasa akan bisa diserap oleh pasar.

Perbandingan prosentase umur. Kategorisasi umur dalam pemasaran biasanya dimulai dari balita, anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua. Prosentase pada setiap umur akan menentukan juga peluang bisnis b di dalamnya. Untuk produk atau jasa yang ditujukan pada pasar anak-anak misalnya, dari jumlah populasi penduduk secara keseluruhan, perlu dilihat berapa persen jumlah anak-anak dari keseluruhan penduduk.

Pasar etnik. Pasar etnik juga merupakan salah satu potensi pasar yang perlu dipertimbangkan. Etnis tertentu biasanya mempunyai kecenderungan, preferensi, dan kebutuhan bersama yang unik dan tidak dimiliki oleh etnis lain.

Tingkat lulusan akademik. Tingkat lulusan akademik akan berpengaruh terhadap pola belanja dan gaya hidup seseorang. Cara memasarkan untuk kalangan berpendidikan tinggi akan berbeda dengan cara pemasaran untuk pendidikan yang lebih rendah.

Pola kehidupan rumah tangga. Rumah tangga di Indonesia sebagian masih menerakan pola keluarga besar dengan orang tua dan anak-anak masih berkumpul dalam satu keluarga hingga tua. Namun demikian, di kota-kota besar keluarga-keluarga muda sudah mulai mandiri dan memiliki rumah serta memisahkan diri dari orang tua mereka.

Lingkungan Ekonomi

Distribusi pendapatan. Tingkat pendapatan suatu daerah akan menentukan produk dan jasa dengan kualifikasi seperti apa yang cocok dengan daerah tersebut. Dan dengan karakter daerah di Indonesia yang sangat beragam, beragam pula potensi antara satu daerah dengan daerah yang lain.

Tingkat tabungan, hutang, dan pinjaman. Tingkat tabungan, hutang dan pinjaman akan menentukan seberapa besar potensi pengeluaran yang akan dilakukan oleh seseorang.


Lingkungan Alam

Menipisnya sumber daya alam. Sumber daya alam adalah sesuatu yang terus dieksploitasi yang lama kelamaan akan habis. Salah satu kunci utama adalah melihat bagaimana sumber daya alam masih bisa dimanfaatkan dan hingga berapa lama.

Meningkatnya biaya. Sekarang ini terdapat kecenderungan bahwa biaya-biaya semakin meningkat terutama untuk listrik dan energi. Peningkatan biaya-biaya ini akan berdampak pada peningkatan biaya produksi yang setiap tahun akan semakin signifikan.

Meningkatnya polusi. Meningkatnya polusi menimbulkan masalah dalam hal kesehatan dan juga kerusakan lingkungan. Di masa depan akan lebih banyak aturan yang mengatur untuk meminimalisir polusi yang tentu saja pada beberapa sektor akan menjadi tambahan biaya yang cukup besar.



Lingkungan Teknologi

Perkembangan teknologi yang sangat cepat. Sekarang ini perkembangan dalam hal teknologi semakin cepat dirasakan. Dengan datangnya internet, perubahan dinamika berlangsung dalam waktu yang semakin cepat dan skala yang semakin meluas. Globalisasi mengubah berbagai aturan main dalam berbisnis. Persaingan juga tidak lagi dalam skala lokal dan nasional, tetapi sudah mengarah pada persaingan global.

Inovasi teknologi yang terus berkembang. Perkembangan teknologi juga dibarengi dengan berbagai inovasi dalam banyak produk dan jasa. Contohnya adalah perkembangan mesin tik yang sekarang ini perlahan tapi pasti sudah mulai digantikan dengan komputer, dan berbagai contoh lain yang berada di sekitar kita.

Aturan-aturan dalam teknologi. Teknologi mempunyai keunikan sendiri dengan dinamika dan perkembangan yang sangat cepat. Melihat aturan pemerintah dalam pengaturan penggunaan teknologi mutlak diperlukan untuk mempermudah berbagai proses dalam masyarakat.

Lingkungan Politik

Aturan-aturan dalam sektor industri. Dalam menjalankan bisnis, aturan merupakan satu landasan mutlak. Karena itu, pemetaan peluang bisnis juga perlu melihat berbagai aturan yang mengatur industri tersebut sehingga tidak terjadi bentrokan ataupun masalah di kemudian hari.

Tumbuhnya organisasi-organisasi LSM dan buruh. Organisasi-organisasi LSM dan buruh di satu sisi memberikan pengaruh positif kepada pekerja untuk menyuarakan berbagai aspirasi mereka. Tetapi organisasi pekerja yang terlalu kuat akan menyulitkan perusahaan dalam beberapa proses pengambilan keputusan, karena harus melakukan banyak kompromi dengan mereka.

Lingkungan Budaya

Perbedaan budaya pada masing-masing negara. Perbedaan budaya menjadikan gaya hidup masing-masing negara dan daerah berbeda juga. Pemahaman budaya pada setiap daerah akan memudahkan pemasar menyesuaikan produk ataupun jasanya sesuai dengan kebutuhan daerah tersebut.

Kepercayaan, tradisi, dan agama. Pada kelompok orang dengan kepercayaan, tradisi, dan agama yang berbeda mempunyai pola konsumsi dan gaya hidup yang berbeda dengan yang berlainan kepercayaan. Dan pada hal-hal tertentu, agama mempunyai peran yang signifikan karena mengatur mana yang boleh dan mana yang tidak dalam hal mengkonsumsi produk ataupun jasa.

Baca Selengkapnya......

Analisis Industri dan Persaingan


Bentuk-Bentuk Persaingan
Bentuk persaingan terbagi menjadi empat tingkatan:
1. Persaingan merek, adalah produk-produk atau jasa yang bersaing secara langsung menawarkan hal yang sama. Misalnya Teh Botol Sosro dan Fres Tea.
2. Persaingan industri, adalah persaingan dalam satu industri, tidak hanya satu produk saja. Misalnya Teh Botol Sosro industrinya tidak hanya industri teh dalam botol, tetapi semua industri minuman. Karena itu pesaingnya adalah juga Coca Cola, Aqua, dan lain-lain.
3. Persaingan bentuk, adalah persaingan dalam bentuk produk yang sama. Misalnya persaingan antara Teh Botol Sosro dengan Susu Ultra, Yogurt, dan lain-lain.
4. Persaingan generik. Adalah persaingan umum pada semua industri, misalnya antara Teh Botol Sosro dengan Sari Roti, dan lain-lain.

Teknik Analisis Pesaing

Untuk menganilis industri dan persaingan, ada empat cara yang harus dilakukan:
1. Definisikan pasar sasaran (target market). Mendefinisikan pasar sasaran akan memudahkan perusahaan untuk mengetahui produk atau jasa mana saja yang membidik sasaran yang sama.
2. Identifikasi pesaing langsung. Pesaing langsung adalah perusahaan yang memberikan produk ataupun jasa yang relatif serupa dengan target market yang kurang lebih sama. Identifikasi pesaing langsung akan membantu untuk melihat peta persaingan, posisi perusahaan dibanding pesaing, dan apa yang harus dilakukan untuk memenangkan persaingan.
3. Ketahui kondisi persaingan. Peta persaingan bisa dilihat dengan menggunakan framework Porter Five Forces. Dari situ bisa dilihat daya tarik persaingannya apakah sudah ketat ataupun belum.
4. Penilaian keunggulan kompetitif. Keunggulan kompetitif adalah kemampuan utama yang dimiliki oleh perusahaan yang diyakini sebagai modal untuk memenangkan persaingan.


Porter Five Forces
Porter Five Forces adalah alat ukur yang dikenalkan oleh Michael Porter untuk melihat daya tarik persaingan dalam suatu industri. Ada lima hal yang harus dianalisa untuk melihat daya tarik persaingan.
1. Persaingan dalam industri. Persaingan dalam industri meliputi banyaknya pesaing langsung dalam bisnis yang dijalankan. Banyaknya persaingan di sini dibandingkan dengan faktor kebutuhan masyarakat akan produk ataupun jasa yang ditawarkan. Jika supply sudah terlalu banyak dan melebihi demand yang ada, maka kondisi persaingan sudah sangat ketat.
2. Kekuatan tawar menawar pelaku bisnis yang baru (new entrance). Kekuatan tawar menawar pelaku bisnis yang baru terkait dengan apakah memasuki industri tersebut gampang atau tidak. Apakah ada hambatan yang besar (barrier to entry), misalnya dari sisi investasi, teknologi, orang, pengetahuan, dan lain-lain. Jika hambatan masuknya kecil, kemungkinan pemain baru akan masuk juga sangat besar, artinya setiap saat dalam suatu industri akan terjadi persaingan yang sangat ketat.
3. Kekuatan tawar menawar pembeli. Di sini adalah bagaimana pembeli mendapatkan informasi dan penawaran yang beragam dari berbagai produsen. Dengan tawaran yang begitu banyak di pasar, pembeli memang akan mempunyai kekuatan tawar menawar yang lebih besar karena punya cukup banyak pilihan.
4. Kekuatan tawar pemasok. Pemasok dalam hal ini adalah perusahaan yang memberikan bahan-bahan, orang, teknologi, dan lainnya yang menjadi bahan produksi. Pemasok akan memiliki kekuatan besar jika sesuatu yang dipasok merupakan hal penting dan tidak banyak perusahaan yang menyediakan. Tetapi jika banyak perusahaan lain yang menyediakan, kekuatan pemasok menjadi tidak terlalu besar.
5. Kekuatan tawar produk pengganti. Produk pengganti adalah produk lain di luar produk sejenis yang mempunyai fungsi hampir sama dengan produk atau jasa perusahaan yang bisa saling menggantikan. Jasa penerbangan misalnya, produk penggantinya adalah jasa transportasi darat dan laut. Kekuatan tawar produk pengganti besar jika terdapat harga yang sangat berbeda antara produk utama dengan produk pengganti.

Strategi Bersaing

Michael Porter membagi strategi bersaing menjadi 3 strategi umum:
1. Differensiasi, adalah strategi memberikan penawaran yang berbeda dibandingkan penawaran yang diberikan oleh kompetitor. Strategi differensiasi mengisyaratkan perusahaan mempunyai jasa atau produk yang mempunyai kualitas ataupun fungsi yang bisa membedakan dirinya dengan pesaing.
2. Keunggulan biaya (low cost), adalah strategi mengefisienkan seluruh biaya produksi sehingga menghasilkan produk atau jasa yang bisa dijual lebih murah dibandingkan pesaing. Strategi harga murah ini fokusnya pada harga, jadi biasanya produsen tidak terlalu perduli dengan berbagai faktor pendukung dari produk ataupun harga yang penting bisa menjual produk atau jasa dengan harga murah kepada konsumen. Warung Tegal misalnya mengandalkan strategi harga. Mereka tidak perduli dengan kenyamanan orang ketika makan, bahkan juga dengan kebersihan, yang penting bisa menawarkan menu makanan lengkap dengan harga yang sangat bersaing.
3. Fokus, adalah strategi menggarap satu target market khusus. Strategi fokus biasanya dilakukan untuk produk ataupun jasa yang memang mempunyai karakteristik khusus. Beberapa produk misalnya hanya fokus ditargetkan untuk kaum muslim sehingga semua produknya memberikan benefit dan fungsi yang disesuaikan dengan aturan Islam. Produk yang fokus pada target market kaum muslim biasanya selalu mensyaratkan label halal, tanpa riba, dan berbagai aturan lain yang disesuaikan dengan ketentuan Islam.

Perusahaan biasanya memilih salah satu dari ketiga strategi ini yang akan diterapkan, karena bagaimanapun akan sulit menjalankan ketiga strategi ini secara bersamaan. Namun demikian, jika perusahaan memilih salah satu di antara tiga strategi ini, bukan berarti sama sekali meninggalkan yang lain, tetapi dua strategi lainnya biasanya diterapkan pada level yang paling standar.
Membangun Keunggulan Bersaing

Untuk bisa bertahan dalam persaingan, perusahaan harus mempunyai keunggulan bersaing (competitive advantage) dibandingkan dengan kompetitornya. Keunggulan bersaing akan menjadi senjata untuk menaklukkan pasar dan kompetisi. Untuk membangun keunggulan bersaing, perusahaan bisa melakukan beberapa langkah:
1. Mencari sumber-sumber keunggulan, misalnya keterampilan yang prima, sumber daya yang berkualitas, dan lain-lain.
2. Mencari keunggulan posisi dibanding pesaing, dengan mengefisienkan biaya produksi dan memberikan nilai tambah kepada konsumen.
3. Menghasilkan performa yang prima, dengan melihat kepuasan dan loyalitas pelanggan, pangsa pasar, dan juga kemampulabaan (profitabilty) dari produk ataupun jasa yang dihasilkan.

Baca Selengkapnya......

Analisis Konsumen

Analisis konsumen berguna untuk melihat bagaimana konsumen mengambil keputusan dan peran pemasaran di dalamnya.

Pengambilan Keputusan Konsumen
Proses pengambilan keputusan yang dilakukan seseorang mengalami berbagai pentahapan sebagai berikut:
1. Analisis Kebutuhan. Konsumen merasa bahwa dia membutuhkan sesuatu untuk memenuhi keinginannya. Kebutuhan itu bisa dibangkitkan oleh dirinya sendiri ataupun stimulus eksternal. Stimulus bisa melalui lingkungan bergaul, sesuatu yang dilihat, ataupun dari komunikasi produk atau jasa perusahaan lewat media massa, brosur, dan lain-lain.
2. Pencarian Informasi. Setelah kebutuhan itu dirasakan, konsumen kemudian mencari produk ataupun jasa yang bisa memenuhi kebutuhannya.
3. Evaluasi Alternatif. Konsumen kemudian mengadakan evaluasi terhadap berbagai alternatif yang tersedia mulai dari keuntungan dan manfaat yang dia peroleh dibandingkan biaya yang harus ia keluarkan.
4. Keputusan Pembelian. Konsumen memutuskan untuk membeli merek tertentu dengan harga tertentu, warna tertentu.
5. Sikap Paska Pembelian. Sikap paska pembelian menyangkut sikap konsumen setelah membeli produk ataupun mengkonsumsi suatu jasa. Apakah dia akan puas dan terpenuhi kebutuhannya dengan produk atau jasa tersebut atau tidak.


Untuk menilai tingkat kebutuhan seseorang, Abraham Maslow membagi hirarki kebutuhan seseorang atas 5 tingkatan, yaitu:
1. Kebutuhan dasar meliputi makan, minum, tempat tinggal.
2. Kebutuhan keamanan
3. Kebutuhan sosial; merasa memiliki, cinta kasih
4. Kebutuhan harga diri; status, pengenalan, harga diri
5. Kebutuhan aktualisasi diri; pengembangan diri, realisasi diri.

Setiap orang mempunyai tingkat kebutuhan yang berbeda-beda tergantung latar belakang pribadi, kondisi sosial ekonomi dan lingkungannya.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembelian

Ada empat faktor utama yang mempengaruhi seseorang dalam melakukan pembelian:

1. Budaya, yang terbagi menjadi tiga:
a. Budaya (kumpulan nilai, persepsi, preferensi, kebiasaan),
b. Sub budaya (suku, bangsa, agama), dan
c. Status sosial.

2. Sosial, yang terdiri dari:
a. Kelompok referensi
b. Keluarga
c. Status dan Peran

3. Personal, yang terdiri dari:
a. Umur dan tingkatan dalam daur hidup
b. Pekerjaan dan tingkatan ekonomi
c. Gaya hidup
d. Kepribadian

4. Psikologi, yang terdiri dari
a. Motivasi
b. Persepsi
c. Learning
d. Keyakinan dan sikap

Model Perilaku Pembelian

Perilaku pembelian seseorang biasanya dimulai dengan stimulus berupa komunikasi dan promosi dari berbagai produk atau jasa. Konsumen kemudian mempertimbangkan kebutuhan tersebut disesuaikan dengan karakternya. Ia kemudian melakukan proses evaluasi terhadap proses pembelian, dan akhirnya merasakan bagaimana produk atau jasa tersebut diterima.

Peran dalam Pengambilan Keputusan

Pihak-pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan seseorang terbagi menjadi beberapa peran yang berbeda:
1. Initiator, orang yang memberi inisiatif/usulan atas suatu pengambilan keputusan ataupun pembelian
2. Influencer, orang yang mampu memberi pengaruh terhadap suatu keputusan
3. Decider, orang yang berwenang mengambil keputusan
4. Buyer, orang yang membeli
5. User, orang yang memakai

Anak sekolah yang ingin sekolah di Taman Kanak-Kanak misalnya, initiator dan usernya adalah anak, orang tua berperan sebagai decider. Sedangkan influencernya adalah kolega dari orang tuanya ataupun teman bermain si anak.

Baca Selengkapnya......